Berbicara tentang dunia perfilman, seakan tak pernah ada habisnya. Mulai dari aktor dan aktris yang menjadi garda depannya hingga sosok kreator dan serba-serbi dibalik layar selalu menarik untuk diketahui. Kali ini kita akan membahas sosok srikandi-srikandi dibalik layar perfilman Indonesia. Mengapa srikandi? Ya jika dunia perfilman Indonesia identik dengan sentuhan lelaki, kini kami akan membagikan sisi lain dari perfilman di Indonesia. Merekalah wanita-wanita tangguh yang mampu bersaing dengan para lelaki. Wujud dari kesetaraan gender mungkin tak berlebihan jika kita cantumkan pada ketiga wanita hebat ini.
Langsung saja dari Sinematografi, tersebutlah sosok Amalia Trisna Sari. Wanita lulusan Institut Kesenian Jakarta ini, bisa dibilang ratunya sinematografi wanita di Indonesia. Bagaimana tidak? Dirinya bahkan telah menelurkan kurang lebih 10 Film sejak tahun 2005 dan film pertamanya yang berjudul “Layar”. Karirnya sebagai Sinematografer bahkan perlu dan harus menjadi contoh bagi setiap kartini muda Indonesia.
Bahkan dalam waktu dekat dirinya telah menyiapkan Film terbaru berjudul “Galih dan Ratna”. Dikutip dari beritagar.id Wanita yang menjadi DOP (Director Of Photography) dalam film Galih dan Ratna itu mengaku bahwa ada beberapa perbedaan yang dilakukan DOP perempuan dan laki-laki terlebih pada mood atau sentuhan visual yang berusaha ditampilkan. Jika di film drama ini, dirinya ingin memberikan pergerakan kamera, warna, yang lebih feminin. “Misalnya Galih dan Ratna, itu pasti beda seandainya DOP-nya cowok. Sisi kewanitaannya bakal agak kurang.” Pungkasnya. Beberapa film yang ia besut juga tak main-main, semuanya bahkan telah memiliki nama dan pecintanya sendiri-sendiri. Tak terkecuali saya sendiri ialah salah satu pengagum beliau. Sebagai sosok perempuan dirinya saya rasa mempunyai keberanian yang tinggi, tanggung jawab juga memiliki integeritas. Bagaimana tidak menjadi seorang cinematographer yang mayoritas dilakukan oleh laki-laki pasti dirinya telah mengalahkan rasa dalam dirinya sendiri sebelum sekarang, dirinyalah yang mengalahkan hati penonton setia film karyanya. Dan harapan saya bagi seluruh sineas muda yang sedang atau bahkan sudah memulai langkahnya di bidang perfilman, untuk tetap semangat dan yakin bahwa setiap diri dari kita unik dan memiliki nilainya masing-masing. Jadi, apapun yang kamu lakukan pastikan kau memberinya sentuhan-mu agar menjadi identitasmu!
Ratu Dari Segala Ratu dibalik Layar Perfilman indonesia
Selanjutnnya, kita ada nama yang sudah tak asing lagi yaitu, Upi Avianto, dirinya adalah salah satu sineas yang sering diberi kepercayaan sebagai Sutradara. Namun tak berhenti sampai disitu meskipun kerap menjadi Sutradara namun dirinya juga aktif sebagai produser dan screenwriters di beberapa film lainnya. Bayangkan saja deretan film yang telah ia besut telah sukses di pasaran.
Beberapa bahkan mampu menyabet penghargaan bergengsi. Sebagai seorang yang sangat sukses dibidang film Indonesia dirinya telah membuat kaum hawa bangga. Pasalnya meskipun telah bermunculan nama-nama lainnya namun yang tetap konsisten ialah sosok Upi Avianto ini. Bayangkan saja dalam kurun waktu 14 tahun ia telah setidaknya memproduksi sebanyak 16 film. Dan hebatnya lagi ada beberapa film yang menempatkan dirinya tak hanya sebagai sutradara namun screenwriters skaligus! Pencapaian yang luar biasa bukan?
Hal ini menunjukkan eksistensinya dalam dunia perfilman Indonesia sangat konsisten. Tak ayal, kemudian hal inilah yang menjadikannya seorang srikandi dalam perfilman Indonesia. Jika kita punya nama Amalia TS sebagai ratunya sinematografi sekarang kita punya nama Upi untuk ratu dari segala ratu. Tak hanya sebagai sutradara hebat dirinya bahkan pernah dua kali diberi kesempatan menjadi produser dalam film “Coklat Stroberi” dan “Hi5teria”. Itu bahkan belum termasuk saat dirinya menjadi penulis naskah dalam film.
Jika mungkin banyak yang menganggap perempuan sebagai sosok lemah mungkin ada benarnya tapi berbeda dengan sosok Upi, dirinya justru banyak membuat film dengan unsur yang sedikit keras, eksentrik dan liar meskipun ada beberapa yang menceritakan sebuah percintaan, dan tetap ia mampu membungkusnya dengan sentuhan professional.
Mungkinkah Editor Perempuan?
Tangan tuhan? Ya sapaan inilah yang kerap dicantumkan bagi seorang editor dalam sebuah film. Bagaimanapun teknisnya, siapapun sutradaranya atau bahkan sehebat apapun acting pemainnya akhirnya akan tetap di kontrol oleh seorang editor sebagai penyunting gambar dalam film. Pertanyaannya ialah apa ada editor perempuan di Indonesia? Tentu saja ada!
Namanya Aline Jusria, wanita kelahiran Semarang, pada 19 September itu adalah seorang editor film asal Indonesia. Tak tanggung-tanggung ia telah menjadi penyunting gambar sejak 2003 dan telah menyunting bahkan lebih dari 30 Film. Sebuah pencapaian yang sangat luar biasa dari seorang kaum Kartini. Lagi-lagi Kartini akan tersenyum bangga telah memiliki keturunan emas seperti beliau. Wanita yang dulu sempat berstudi di Fakultas Film dan Televisi, Institut Kesenian Jakarta ini merupakan salah seorang yang berpengaruh. Bagaimana tidak sentuhannya lah yang menentukan bagaimana rasa dalam sebuah film akan sampai ke masyarakatnya.
Suatu pencapaian yang luar biasa bukan? Meski usianya baru 39 tahun, dirinya membuktikan bahwa apapun yang ingin kita capai pasti bisa jika dilakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh. Siapapun kamu dimanapun kamu, ras darimanapun kamu hingga apapun gender kamu, kamu memiliki kesempatan yang sama dengan yang lain. Namun yang membedakannya ialah usaha dan kerja kerasmu yang pada akhirnya tak akan menghianati hasil jerih payahmu.
Leave A Reply Now