Manusia hidup di dalam lingkungan sosial. Dimana untuk hidup di dalamnya tak jarang manusia harus memenuhi standar sosial. Perempuan harus feminim dan laki-laki harus maskulin. Hal ini juga terjadi pada jagoan Bojongsoang, Ajo Kawir (Marthino Lio). Ia menghabiskan hidupnya sebagai petarung jagoan dan pembunuh bayaran untuk membayar cibiran masyarakat atas rahasia umumnya dimana ia seorang impoten. Biasanya lelaki mahir di ranjang saja sudah bisa dikatakan maskulin. Namun karena hal ini tidak bisa didapatkan oleh Ajo, kejantanannya ia tunjukkan dari penampilan dan kemampuan bela dirinya. Ia menjadi seseorang yang bengis dan berani menghadapi apapun.
Seperti judulnya, film ini terkesan mengandung romantisme, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Film ini memang sangat sangat berisi penuh dendam dalam setiap peristiwa yang disajikan. Hampir semua peristiwa yang terjadi mengalir karena hal-hal yang terjadi di masa lalu. Dapat dikatakan film ini sangat berani dalam segala aspek. Mulai dari genre, agak sulit mengidentifikasi apa sebenarnya genre dari film ini. Ada unsur romantis, thriller, komedi dan juga mistis. Dari topik yang diangkat pun beragam, mulai dari toxic-masculinity, trauma pelecehan seksual, penyalahgunaan kekuasaan, dan penggunaan ilmu hitam. Film ini benar-benar menyajikan rangkaian cerita yang kompleks. Meskipun begitu, film ini tetap terarah. Bagi penonton yang belum membaca novel karya Eka Kurniawan ini mungkin akan kebingungan ketika menikmati karya audio visual yang satu ini lantaran adanya konflik yang beragam dan ditata secara acak. Penonton diajak bolak balik dengan alur yang dibawa. Namun meskipun demikian, karya ini masih dapat dinikmati walau harus sedikit lebih memutar otak.
Ajo Kawir adalah seorang lelaki dengan perawakan kekar, kusam namun gagah. Ia pandai dan gemar berkelahi. Sampai pada suatu ketika dia harus menemui seseorang bernama Palebe. Sebelum itu, dia dipertemukan dengan gadis yang cantik namun tak kalah gagahnya, Iteung. Gadis ini pandai sekali berkelahi. Sosok Iteung di sini hadir untuk melawan standar masyarakat bahwa perempuan haruslah anggun dan feminim. Nyatanya, selain cantik, Iteung pun mahir bela diri. Magis sekali, kisah cinta mereka justru diawali dengan pertengkaran sengit dan bertaruh nyawa. Sang Sutradara, Edwin, patut diacungi jempol dalam men-direct talent-talentnya untuk memvisualisasikan pertarungan mereka. Adegan pertarungan antara lelaki dan perempuan dengan latar tempat jalanan batuan kasar dan penuh alat berat dan juga truk yang berseliweran ini cukup membuat jantung kita berdebar. Apalagi diakhir kita dapat menyaksikan bagaimana Ajo membanting tubuh Iteung dan membuatnya kalah. Koreografi dalam pertarungan ini terbuat berima membuat penonton terbawa suasana.
Bahkan menuju pengakuan cinta Ajo pun dihadirkan dengan visual dan suasana yang menarik. Di balik derasnya hujan dan pertarungan di kebun semak belukar, Ajo akhirnya menyatakan cintanya yang semula ia ragukan karena pesimis Iteung akan menolaknya lantaran impotensi yang dideritanya. Sementara Iteung adalah seorang perempuan yang tidak bisa mengendalikan nafsunya setelah trauma akibat pelecehan seksual yang ia alami semasa di bangku sekolah oleh gurunya. Namun impotensi Ajo terkalahkan oleh besarnya cinta Iteung. Iteung menerima Ajo apa adanya dan mereka sampai pada pernikahan untuk mengarungi bahtera rumah tangga.
Dalam film ini terdapat sosok bernama Jelita yang sebenarnya bukan manusia. Visualisasi sosok Jelita (Ratu Felisha) ini patut diacungi jempol. Cherry Wirawan sebagai Penata Rias patut diapresiasi atas totalitasnya dalam merancang bentuk wajah yang bisa dikatakan “aneh” atau “jelek” untuk dimiliki seorang wanita. Membutuhkan waktu 4 jam untuk menampilkan wajah sosok Jelita. Senada dengan riasan, Penata Kostum dalam film ini juga sangat epic, dan sangat terkonsep. Mulai dari pakaian sehari-hari yang digunakan dan aksesorisnya. Warna yang dihasilkan dari set lokasi dan artistik dengan pakaian yang dipakai sangat serasi. Teknik pengambilan gambar dalam film ini pun niat bukan main. Berbekal kamera analog 16mm. Ditambah lagi dengan visual editing yang digunakan. Sungguh menciptakan suasana 1980 yang kental. Kesan era 1980-an hingga 1990-an terasa kental dalam film ini. Para pemeran berdialog dengan bahasa baku dan terkesan kaku, namun tetap terasa nyaman di telinga. Skoring menjadi hal yang tidak bisa dilupakan di film ini, nuansanya semakin kental dengan musik-musik dari Rhoma Irama.
Kehadiran dari sosok Jelita ini bisa dikatakan kunci dari segala peristiwa yang terjadi. Jelmaan dari Rona Merah ini ternyata mengantarkan pesan cinta dari Iteung yang pada suatu ketika terpaksa terpisah dari suaminya, lantaran Iteung yang bercinta dengan lelaki lain karena nafsunya yang tidak bisa terbendung. Ajo terpukul bukan main. Bagai jatuh tertimpa tangga pula. Ajo yang masih berkutat mencari solusi untuk “burungnya”, bertahan hidup dari bengkelnya, harus tertimpa musibah lagi dimana istri tercinta melampiaskan nafsunya dengan lelaki lain. Lelaki ini bernama Budi Baik (Reza Rahadian) yang kelakuannya tidak sesuai dengan namanya. Ia telah lama mencintai Iteung dan telah berkali-kali memanfaatkan trauma Iteung untuk memuaskan hasrat seksualitasnya. Ia juga patut dikesali oleh semua orang lantaran sikapnya yang seolah memamerkan maskulinitas dirinya baik dari kemampuan kelahinya maupun kemampuan ranjangnya. Ajo menjadi gila sekaligus menjadi pembunuh. Dialah pembunuh si Macan. Ajo berakhir menjadi setengah gila setengah waras di bui. Dan Iteung, membesarkan kandungannya seorang diri dengan penuh rindu yang terpupuk dalam untuk suaminya.
Rona Merah ini pula yang menjadi latar belakang alat kelamin Ajo tidak bisa berfungsi sebagaimana normalnya. Hal ini diceritakan ketika masa kecil Ajo dan Tokek (Sal Priadi) yang menyaksikan Rona Merah (perempuan yang menjadi gila setelah melihat suaminya meninggal di hadapannya) diperkosa oleh dua aparat kepolisian. Namun malangnya, kedua anak kecil ini ketahuan oleh kedua aparat ini. Tokek berhasil lari namun Ajo mendapatkan awal permasalahannya. Ajo dipaksa untuk turut dalam aksi pemerkosaan Rona Merah oleh kedua aparat kepolisian ini. Adanya aparat ini pun memperkuat lata 1980-an ini yang kental dengan otoritas rezimnya.
Cerita ini pun diperkuat dengan hadirnya tokoh Paman Gembul (Piet Pagau) yang selalu memiliki dendam terhadap beberapa orang. Paman Gembul ini nampaknya patut dibenci penonton yang selalu saja menggunakan uang untuk berkuasa. Bisa dibilang ia menyalahgunakan kekuasaan dengan apa yang ia miliki. Ia selalu berambisi untuk membunuh orang-orang dengan alasan ingin mati dengan damai. Paman Gembul-lah yang mengenalkan Ajo kepada Si Macan melalui sebuah foto. Dia ingin Ajo membunuh Si Macan dengan imbalan uang. Uang ini adalah harapan bagi Ajo untuk hidup bahagia dengan istrinya Iteung. Ia bercita-cita memiliki rumah dan bengkel truk sendiri. Namun Iteung melarang suaminya membunuh. Ia menceritakan tentang seperti apa bengisnya sosok Si Macan melalui dongeng tidak adanya kelingking kiri Si Macan. Meskipun dongeng ini benar atau tidaknya saja masih tidak diketahui. Rasanya tidak mungkin jika Si Macan yang digambarkan sebengis itu memotong kelingking kirinya sendiri untuk menyembunyikan sakit giginya lantaran takut dokter gigi. Kisah si Macan juga dihadirkan seolah menyerempet isu otoriter rezim yang kental di tahun 1980-an. Di tahun itulah marak adanya petrus atau penembak misterius. Selain meminta Ajo membunuh si Macan, Paman Gembul juga meminta Iteung membunuh kedua aparat kepolisian yang terlibat dalam peristiwa Rona Merah setelah Iteung bebas dari bui. Namun pada akhirnya Paman Gembul terbunuh juga, mungkin Paman Gembul menyembunyikan dosanya yang telah menjadi dendam bagi orang lain.
Selepasnya dari bui, Ajo beralih menjadi supir truk angkut bersama Mono Ompong (Kevin Ardilova). Di saat-saat inilah karakter Ajo berubah. Ia menjadi lebih sering mengalah dan lebih bijaksana dalam bertindak. Hal ini ia lakukan dengan dalih ingin terhindar dari masalah. Berubahnya karakter Ajo ini ditampilkan dengan terlibatnya ia dalam konflik dengan sesama supir truk angkut. Bermula dari truk ini pula, Ajo bertemu Jelita. Sesosok perempuan aneh dan kaku yang membingungkan namun menjadi kunci dari segala peristiwa. Adanya sosok Jelita ini berawal dari Iteung yang mengirimkan sesajen di tempat Rona Merah diperkosa oleh kedua aparat yang menyebabkan suaminya, Ajo, trauma hingga impoten. Ia menceritakan kisah sesosok perempuan yang mengalami konflik pelecehan seksual dengan gurunya sendiri (Iteung) dengan nama perempuan lain. Kisah yang ia ceritakan memuncak pada “burung” Ajo. Di sinilah titik sadar Ajo tiba. Ajo pun bergegas pulang menemui istrinya dengan harapan masih ada pintu maaf untuknya.
Penonton akan diberi harapan besar ketika Iteung dan Ajo bercumbu di teras rumah setelah lama terpisah. Namun harapan itu akan jatuh sejatuh-jatuhnya lantaran Iteung harus kembali ke bui untuk kedua kali lantaran aksi balas dendam yang ia lakukan selama ia berpisah dengan suaminya. Di depan teras mereka terus bercumbu dengan beberapa polisi yang menunggu Iteung. Sepertinya memang kisah mereka selalu bernasib untuk terpisah dan merindu.
Sekali lagi, film ini benar-benar berani. Film ini berani menyajikan visual perpaduan di antara persoalan impotensi, toxic-masculinity, seksualitas dan kritik terhadap rezim dengan cara yang vulgar. Adegan-adegan dewasa untuk memperkuat jalan cerita yang dimunculkan di lokasi-lokasi yang tidak tertebak juga dirancang dengan matang. Isu-isu otoriter dari suatu rezim yang dihadirkan sebagai suatu kritik, bukan penghakiman. Isu-isu yang hadir dalam film ini patut kita benarkan keberadaannya karena telah menjadi keresahan di lingkungan hidup kita selama ini.
Artikel ini ditulis oleh Dina Windrayani Penulis merupakan mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta 2018 dan anggota aktif Avikom
Leave A Reply Now