Empat belas Februari menjadi hari kasih sayang bagi kita semua. Hari yang biasa kita sebut sebagai Valentine Day. Konon, seorang pendeta bernaman St. Valentine menolak larangan Kaisar dimana seorang prajurit tidak diperbolehkan untuk menikah. Namun, Valentine justru membantu mereka untuk menikah. Ia pun ditangkap kemudian dihukum mati pada 14 Februari. Ketika ia ditangkap, ia jatuh cinta kepada salah seorang anak dari sipir penjara. Sebelum meninggal, Valentine memberikan sepucuk surat perpisahan kepada wanita tersebut dibubuhi tanda tangan bertuliskan āFrom Your Valentineā.
Anggaplah sejarah menjadi bekal kita saat ini, maka adanya kasih sayang memang perlu diperjuangkan. Mempertemukan dua hati manusia terasa mudah dan indah nyatanya sulit pada prosesnya. Memilih untuk bersama bukan berarti menyatukan, tetapi mengimbangi. Kasih sayang seringkali menjadi salah jika berlebihan. Kasih sayang tidak hanya berputar pada bagaimana kita memberikan namun juga bagaimana orang lain menerima.
Sebagaimana kasih sayang Kale yang begitu besar, membuatnya menutup ruang gerak Dinda. Begitu juga dengan janji setia selamanya antara Lala dan Yudhis justru membuat mereka terkurung dalam ikatan yang melebihi batas dari yang dapat disebut dengan kasih sayang.
Kedok besarnya kasih sayang tidak seharusnya membayangi sebuah hubungan. Obsesif, posesif, dan penuh curiga bukanlah kasih sayang. Bagi sebagian orang, hal-hal tersebut mampu memberikan ketakuan di kemudian hari. Mencintai dan menyayangi sewajarnya serta tidak mewajarkan segala hal atas dasar cinta dan kasih sayang.
Artikel ini ditulis oleh Rena RegitaĀ Penulis merupakan mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta 2019 dan anggota aktif Avikom
Leave A Reply Now