Dunia perfilman Indonesia sedang banyak memproduksi film-film bergenre baru dan menyegarkan perfilman kita. Seperti, film Buffalo Boys ini. Film yang bergenre fiksi campur sejarah. Film yang dibesut oleh Sutradara Mike Wiluan ini membawa angin segar bagi dunia perfilman Indonesia. Dengan membawa latar belakang sejarah penindasan dan kekerasan yang dilakukan oleh Belanda pada jaman kolonial menjadi poin utama film ini, terutama untuk masyarakat Indonesia.
Kisahnya berangkat dari cerita dua orang anak Sultan, Jamar (diperankan Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) yang ingin membalas dendam atas pembunuhan ayah mereka setelah bertahun-tahun diasingkan ke Amerika Serikat. Bersama sang paman, Arana (Tio Pakusadewo) mereka pulang kampung untuk merebut keadilan di Tanah Jawa, tempat mereka dilahirkan. Pembalasan dendam ditujukan pada Van Trach (Reinout Bussemaker), Kepala VOC yang bertindak kejam dan semena-mena di daerah tersebut.
Misi mereka pun bersamaan dengan Kiona (Pevita Pearce), putri kepada desa.
Mike Wiluan membangun alur cerita yang tak begitu rumit dan terbilang mudah ditebak. Yang lemah tersakiti, yang kuat bertindak semena-mena. Dan pada akhirnya kebaikan mengalahkan kejahatan. Buffalo boys dihadirkan nyaris tanpa kehadiran konflik yang berarti. Kebanyakan konflik tersebut hanya tampil untuk memicu adegan-adegan aksi dalam film untuk kemudian menguap dan menghilang begitu saja dari dalam pengisahan.
Aspek laga ini terasa intens tetapi hanya di permukaan, mungkin karena aspek drama dan konflik personal yang kurang menggigit. Padahal, pemain yang sebagian besar punya riwayat menarik dalam akting film, terasa sudah dapat mendalami dan menjiwai setiap karakter yang dimilikinya dan bagus mentransfernya ke penonton, tetapi masih banyak kejanggalan yang terdapat pada film ini. Terutama pada penggunaan dialog dari para pemain yang terdengar sangat kaku dan tidak wajar, terutama untuk penggunaan bahasa Indonesia.
Kelebihannya terdapat pada sisi visual yang menarik dan menjadi pencapaian yang hebat. Semua aspek teknisnya disajikan begitu mapan untuk standar industri film kita sehingga serasa menonton film produksi barat.Fight scene, set, kostum, editing dan sinematografi sangat diperhatikan di film ini. Adegan aksi khas western, seperti perkelahian di bar, duel senjata, hingga aksi menunggang kerbau, digarap serius dan amat menghibur. Hal yang menarik dari sisi visualnya ialah setting latar yang dibuat sangat menggambarkan sisi penjajahan, dan terlihat sangat mahal.
Tetapi tetap disayangkan, disaat sisi visual yang mendukung film ini tidak dikerjakan dengan ide cerita,alur cerita, serta naskah yang banyak membuat penonton kecewa. Di luar aksi laganya, film ini juga mengedepankan sisi drama yang dominan dan hampir keluar pada poin utama sejarah dan aksi laganya, sehingga terlewat membosankan dan seperti keluar dari ritme serta tempo film ini.
Namun, film ini patut diacungi jempol karena dapat memberi terobosan baru di perfilman Indonesia serta berani untuk menggabungkan ide west dan east pada film. Dan juga, dengan adanya film ini diharap orang-orang dibalik dunia perfilman Indonesia bisa mengeksplorasi lagi elemen-elemen lokal serta mematangkan cerita lebih baik lagi sebelum merambah sisi visual.
Leave A Reply Now