REVIEW FILM : BALIK JAKARTA

REVIEW FILM : BALIK JAKARTA

Secara garis besar film Balik Jakarta besutan Jason Iskandar membicarakan Jakarta dari sudut pandang yang sederhana. Bagaimana kehidupan yang sangat dinamis di ibu kota dapat disampaikan dengan pengemasan yang sangat apik. Dimulai dari pengenalan tokoh di awal, sang sutradara terkesan memberikan dua sosok yang disandingkan secara “head to head” tanpa unsur berat sebelah. Ditambah memasukkan unsur modernitas yang menggambarkan kehidupan di kota metropolitan tersebut.

Sosok supir ojek berwawasan tinggi dengan gelar sarjananya, Togar, di gambarkan sebagai orang yang mampu survive akan kerasnya kehidupan kota Jakarta. Sosoknya merepresentasikan daerah asalnya, Medan, sebagaimana di awal dirinya terlibat percakapan khas ala pangkalan dengan sesama rekan ojek lainnya dalam membahas tentang hutang. Ya, lagi-lagi polemik yang biasa dialami masyarakat kecil di tengah peliknya kehidupan Ibukota.

Selanjutnya Togar mengantar Mr. Gunther (seorang turis Jerman), menuju alamat yang diinginkannya. Gambar demi gambar yang ditunjukkan konsisten dalam penggambaran Jakarta dengan seluruh hiruk-pikuknya, layaknya macet, gedung-gedung tinggi dan hal-hal autentik yang dapat dijumpai di daerah terpadat Indonesia itu. Tak ketinggalan budaya menerobos lalu lintas juga ditampilkan pada film ini. Jason Iskandar juga menyisipkan beberapa budaya Medan tentang filosofi sebuah cicak yang dilekatkan pada tokoh Togar.

Hal menarik lain, ialah ketika nama Indonesia yang diwakilkan oleh Togar seakan dipertaruhkan dimata negara asing tatkala motor yang dikendarainya mati. Namun diakhir, Jason mampu menutupnya dengan pesan yang begitu mendalam. Bagaimana rumah tak akan pernah tergantikan bahkan bagi mereka yang tak pernah sekalipun menginjakkan kaki dirumah selama berpuluh-puluh tahun tetapi tetap berusaha menemukan rumahnya. Lagi pula, Togar pun akhirnya dapat kabar dari sang bunda yang selalu ia nantikan.

Hal ini tentu menjadikan sosok dibalik layar dari film ini menjadi menarik untuk diperbincangkan. Bagaimana sepak terjang beliau di dunia perfilman yang tak bisa dianggap remeh. Apalagi ketika film pendeknya “Teritorial Pissings” memenangi Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2010. Film dokumenter “Indonesia Bukan Negara Islam” juga merupakan salah satu karya terbaik miliknya yang menjadikan dirinya idola bagi para sineas film muda. Salah satunya Ayesha Alma, pengamat dan penggiat film indie yang tergabung dalam Avikom Film Yogyakarta. “Karya berbicara, film-filmnya bagus dan selalu menarik untuk di tonton. Dia mampu menampilkan sesuatu yang ringan dan mampu dinikmati oleh siapa saja” ungkap Ayesha dalam suatu kesempatan pada 22 Juli silam.

Film “Langit Masih Bergemuruh” juga merupakan satu dari banyak film besutan Jason Iskandar yang menarik dalam benak Ayesha. Bagaimana sebuah film sunyi yang bercerita banyak dan memberikan fakta-fakta baru yang tentu membuat penikmatnya ingin terus menanti karya-karya beliau. Termasuk bagaimana ketika dirinya memasukkan sisi emotional core dalam film Balik Jakarta yang cukup menggelitik.

”Masing-masing film punya cerita dan ketertarikan atas isu yang berbeda. Tapi, pada dasarnya, bikin film buat mencatat dan menciptakan momen. Angkat sebuah cerita yang didalamnya ada fenomena sosial. Banyak hal yang bisa kamu dapatkan dari peristiwa yang paling dekat dengan kamu.”

Jason Iskandar

  • No Tags

Leave A Reply Now

Send Us A Message

Your email address will not be published. Required fields are marked *

read more latest blog