Film Aruna dan Lidahnya diadaptasi dari novel karangan Laksmi Pamuntjak dengan judul yang sama. Walaupun film ini diadaptasi, banyak cerita dari novel tersebut yang tidak terdapat pada film ini, sehingga bisa di katakan bahwa film ini merupakan adaptasi lepas. Jika di bukunya film ini menggugah rasa lapar pada pembaca dengan perjalanan kulinernya. Pada film justru sangat menambah rasa lapar para penonton karena melihat dengan jelas bagaimana sang pemain menikmati makanan tersebut ditambah kisah-kasih para pemain didalamnya.
Perjalanan pada film ini diawali ketika Aruna ditugasi menyelidiki kasus flu unggas yang terjadi secara serentak di empat kota seputar Indonesia. Ia memakai kesempatan itu untuk mencicipi kekayaan kuliner lokal bersama kedua karibnya, yaitu Beno dan Nadhezda. Diawal perjalanan Aruna, ternyata ia mendapatkan kejutan bahwa ia harus bertemu Farizh, seseorang yang telah lama membuatnya jatuh hati dan kisah mereka pun dimulai.
Dalam perjalanan mereka, makanan, politik, agama, sejarah lokal, dan realita sosial tak hanya bertautan dengan korupsi, kolusi, konspirasi, dan misinformasi seputar politik kesehatan masyarakat, namun juga dengan cinta, pertemanan, dan kisah-kisah mengharukan yang membuat cerita ini semakin menambah cita rasa film ini semakin nikmat.
Bayangkan saja, adegan kuah rawon yang mengepul, bakmi kepiting segar siap santap, pengkang, serta choi pan yang menerbitkan selera. Itu hanyalah segelintir dari makanan yang hadir di sepanjang film. Adegan tersebut dibalut dengan obrolan-obrolan santai, dan kadang bikin senyum simpul sendiri karena diangkat dari obrolan keseharian yang mungkin pernah dilontarkan sesekali.
Faktor pemilihan pemeran menjadi faktor utama yang mendukung film ini cukup memuaskan. Dian Sastrowardoyo, Nicholas Saputra, Oka Antara, dan Hannah Al Rashid hadir dengan akting yang sealami adanya. Mereka memerankan dengan karakter yang kuat dan tanpa dibuat-dibuat. Mereka hadir dengan natural lewat obrolan-obrolan yang dimainkan dengan percapakan sehari-hari yang biasanya membosankan namun dikemas dengan asik dan ringan.
Obrolan yang berisikan kasus berat seperti korupsi dan kasus flu burung pun dikemas dengan adegan dan percakapan yang ringan. Seperti contohnya, saat Aruna bertemu dengan Bos-nya di pinggir jalan raya, disitu percakapan yang terjadi jatuhnya menjadi lucu, padahal sedang berbicara mengenai tersangka korupsi. Contoh lainnya saat Aruna dan Farizh membicarakan tentang wabah flu burung di pinggir trotoar, percakapan tentang flu burung yang dibumbui dengan kisah cinta mereka terkesan sangat menarik.
Alur cerita yang dimiliki juga sederhana namun diracik dengan sungguh konyol dan ringan, seperti film-film yang pernah dibuat sebelumnya oleh sang sutradara Edwin dengan Palari Films, yaitu Posesif (2017). Hubungan interaksi antara pemain utama maupun pemain pembantu pun ditampilkan sewajarnya seperti kehidupan sehari-hari. Ditambah dengan perjalanan wisata kuliner mereka di kota-kota seputar Indonesia dan segi visual dari pengambilan shot pada setiap makanan yang di sajikan dapat membuat penonton ngiler!
Informasi yang terdapat pada film ini pun bisa menambah pengetahuan kepada para penonton. Pengetahuan tersebut ialah kekayaan makanan khas dari tiap kota yang dilalui oleh Aruna dan rekan-rekannya terutama untuk masyarakat Indonesia yang bukan berasal dari daerah tersebut. Seperti campur lorjuk makanan khas Pamengkasan, choi pan makanan khas Singkawang, dan lain-lain. Hal lain yang dapat menjadi pengetahuan juga didapat dari gambaran-gambaran kota yang ditampilkan pada film ini, kita bisa mendapatkan gambaran lingungan pada kota yang mungkin belum dikunjungi tetapi ada pada film ini.
Visual yang indah ini juga didukung dengan alunan-alunan musik yang menggelitik. Kekuatan musik pada film ini terasa sangat mengikat terutama pada alunan musik klasik, pop jazz, yang dapat membangun suasana nostalgik. Selain itu, lagu-lagu masa kini seperti lagu dari Monita Tahalea dapat memberikan kehidupan yang lebih pada film ini. Tidak lupa juga, adanya lagu yang mempunyai kesan romantik seperti lagu dari Yura Yunita “Takkan Apa”.
Color pallete yang terdapat pada film ini juga membuat lebih hidup. Karena warna yang dipilih sesuai dengan karakter yang dimainkan oleh setiap perannya, seperti Aruna yang selalu memakai warna “mencolok” dapat memberikan arti gaya pop. Gaya lain seperti Bono yang bajunya selalu mempunyai motif yang tidak kaku tapi terlihat santai dan warna yang cerah dapat memberikan maksud bahwa Bono orang yang easy going.
Perpaduan makanan yang lezat dan obrolan bermutu yang disajikan Aruna dan Lidahnya sudah bisa kalian santap sejak 27 September 2018 lalu.
Leave A Reply Now