Kebingungan adalah permasalahan utama dalam film Yuni. Bagaimana ia bingung akan masa depannya, bagaimana ia bingung dengan stigma tentang perempuan yang berkembang di lingkungannya, dan bagaimana ia bingung memilih pilihan untuk hidupnya. Perempuan, di Indonesia sendiri masih kental dengan budaya perempuan bahwa jalan hidup perempuan hanya sekadar menjadi ibu rumah tangga. Budaya tesebut membuat banyak remaja wanita di daerah pinggiran kota takut akan berakhir sama seperti kebanyakan perempuan di lingkungannya.
Film Yuni menggambarkan kondisi perempuan pinggiran kota yang serat akan edukasi dan berpotensi mengalami kemiskinan turun temurun. Film ini hadir untuk memberikan pandangan baru bagi wanita dan masyarakat dalam menghadapi fenomena yang sering terjadi di masyarakat ini. Penggambaran cerita yang lebih memusatkan kepada aktivitas sehari hari Yuni dan bagaimana interaksinya dengan orang orang sekitar membuat kesan personal dari film Yuni ini semakin terasa.
Karakter Yuni yang dibuat sebagai remaja perempuan polos ini mempertanyakan tiga permasalahan besar, yakni “apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh remaja perempuan usia 18 tahun?”, “Apa yang sebenarnya harus ia lakukan atas stigma bagi perempuan yang diyakini oleh masyarakt sekitarnya?” dan “ Bagaimana standar ideal dari seorang perempuan itu sendiri?”Ketiga permasalahan itu dibahas dan ditampilkan secara apik dalam kurun waktu 2 jam film.
“Apa yang sebenarnya harus dilakukan oleh remaja 18 Tahun?”
Lahir di keluarga ekonomi menengah ke bawah membuat Yuni tidak memiliki banyak kesempatan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, satu-satunya caranya hanya dengan mendapatkan beasiswa. Beasiswa tersebut bisa didapatkan dengan syarat memiliki nilai cemerlang dan jejak sekolah yang baik, Namun “Penyakit Ungu” yang diderita Yuni menjadi salah satu penghambatnya untuk meraih kesempatan emas itu. Ditambah dengan tes keperawanan sebagai syarat lulus SMA. Hal itu semakin membuatnya bingung antara korelasi tes keperawanan dan pendidikan.
Penggambaran aktivitas Yuni dari bangun tidur kemudian berangkat ke sekolah melewati gerombolan ibu ibu yang menceritakan keluh kesahnya berumah tangga hingga di sekolah tentang gunjingan dirinya yang sudah menolak 2 kali tawaran lamaran pria, dan setelah pulang sekolah di tempat di mana ia dan teman temannya nongkrong dan bertukar cerita pribadi. Di lingkungan Yuni tinggal, masyarakatnya mempercayai bahwa tidak baik bahwa seorang wanita menolak tawaran dari seorang lelaki hingga tiga kali. Bagaimana ia menghabiskan waktunya dengan teman laki lakinya, bertemu dengan mantan korban KDRT dan seniman jalan yang banyak membuka pikirannya tentang pilihan pilihan dalam hidup ataupun saat ia bertemu dengan Pak Guru yang selama ini ia diam diam menyembunyikan identitas dirinya. Melalui penggambaran cerita ini, diketahui bagaimana suatu masyarakat bekerja dan di mana Yuni yang merupakan anggota kelompok masyarakat tersebut haruslah mematuhi norma tersebut atau memilih untuk mengikuti kata hati walaupun berisiko dikucilkan dari masyarakat.
Pada akhirnya, film Yuni ini tidak mengajarkan bagaimana seharusnya remaja perempuan bertindak sesuai standar sosial yang berlaku. Standar sosial yang dibuat oleh masyarakat seharusnya bukanlah menjadi halangan bagi semua orang untuk bisa mencapai keinginannya. Melalui film Yuni ini, sang penulis, Kamila Andini ingin mengatakan bahwa ada kalanya seseorang mengambil keputusan ceroboh atau dianggap tidak sesuai denga ekspektasi masyarakat yang diyakini.
Artikel ini ditulis oleh Muhammad Farhan Fadilah Penulis merupakan mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta 2020 dan anggota aktif Avikom
Leave A Reply Now