
Tidak hanya sejarah lahirnya negara Indonesia yang dapat kita pelajari dan ketahui, tetapi sebagai pemuda-pemudi Indonesia juga harus mengetahui tentang sejarah lain yang mendukung serta mengawal perkembangan negara Indonesia dari masa ke masa baik yang mendunia maupun bagi Indonesia sendiri. Seperti sejarah lahirnya perfilman Indonesia, karena film juga merupakan salah satu media hiburan terbesar serta memiliki pengaruh kuat bagi masyarakat Indonesia.
Dengan adanya dunia perfilman, kita bisa mendapatkan suatu hiburan guna melepas stress dan penat sehabis sekolah,kerja atau kegiatan lainnya. Disamping itu, kita bisa mendapat informasi serta ilmu baru, baik yang tersirat maupun tersurat dalam film tersebut. Contohnya, bagi anak-anak yang hidup di zaman 2000 ke atas, lalu ia ingin mempelajari sejarahpada zaman Belanda, maka ia bisa menonton dokumenter pada zaman itu guna lebih mengetahui dan menggambarkan visual pada zaman dulu seperti apa. Selain itu, film bisa memberikan inspirasi dan motivasi terutama bagi anak muda di Indonesia yang mudah putus asa. Dalam kancah dunia politik, film juga sangat berpengaruh,karena film bisa menjadi media propaganda politik. Seperti pada zaman Soeharto, dunia perfilman Indonesia mengalami keadaan mati suri, karena segala bentuk yang menyinggung propaganda pasti dimusnahkan. Maka, untuk mengetaui hal tersebut lebih lanjut, berikut penjelasan sejarah perfilman Indonesia :
Era 1926-1941
Dunia perfilman Indonesia pertama kali dikenal pada tahun 1900-an, yaitu pada masa penjajahan belanda. Namun belum ada literatur yang pasti, kapan tepatnya film dikenal di Indonesia, tetapi dari banyaknya literatur yang beredar dunia perfilman Indonesia dimulai dari tahun 1926. Pada tahun itu film dikenal dengan istilah Gambar Hidoep. Meskipun sudah dikenal lama, kala itu bermunculan film-film yang diproduksi di Indonesia, bukan diproduksi oleh Indonesia, karena orang-orang dibalik pembuatan film tersebut bukan anak bangsa. Peristiwa bersejarah pada 5 Desember 1900 itu dilaksanakan di diinisiasi oleh Nederlandsche Bioscope Maatschappij (Perusahaan Bioskop Belanda). Saat itu, film yang diputar adalah film dokumenter yang menggambarkan perjalanan Ratu dan Raja Belanda di Den Haag, negeri Belanda. Gambar idoep ternyata mampu menjadi fenomena tersendiri di masyarakat Hindia Belanda. Penduduk daerah ini yang sebelumnya lebih familiar dengan seni pertunjukan live seperti toneel (sandiwara) melajoe atau opera stamboel (mengacu kepada busana pemain yang mirip prajurit Turki—“Stamboel” dari kota Istanbul) akhirnya mampu menerima pertunjukkan yang hanya disajikan di sebidang layar putih itu. Perkembangan film naratif selanjutnya baru dimulai pada 1905 lewat impor film-film dari Amerika Serikat.
Hal ini dibuktikan dengan adanya koran Bintang Betawi No.278, 5 Desember 1900 yang memuat iklan bioskop. Seni pertunjukkan film pada masa itu diselenggarakan oleh orang Belanda. Jenis bioskop terbagi menjadi tiga golongan berdasarkan status penonton, yaitu bioskop untuk orang Eropa, bioskop orang menengah, dan golongan orang pinggiran. Pada tahun 1925 sebuah artikel di koran masa itu, De Locomotif, memberi usulan untuk membuat film. Pada tahun 1926 dua orang Belanda bernama L. Heuveldorp dan G.Kruger mendirikan perusahaan film, Java Film Coy di Bandung dan pada tahun yang sama mereka memproduksi film pertamanya berjudul Loetoeng Kasarung (1926), yang diangkat dari legenda Sunda. Film ini tercatat sebagai film pertama yang diproduksi di Indonesia dan ini dianggap sebagai sejarah awal perfilman Indonesia. Film ini diputar perdana pada 31 Desember 1926. Film berikutnya yang diproduksi adalah Eulis Atjih (1927) berkisah tentang istri yang disia-siakan oleh suaminya yang suka foya-foya.
Dalam perkembangan berikutnya banyak bermunculan studio film yang dinominasi oleh orang-orang Cina. Pada tahun 1928 Wong Brothers dari Cina (Nelson Wong, Joshua Wong, dan Othniel Wong) mendirikan perusahaan film bernama Halimun Film dan memproduksi film pertamanya Lily Van Java (1928). Film ini sendiri kurang disukai oleh penonton pada masa itu. Wong Brothers akhirnya mendirikan perusahaan film baru bernama Batavia Film. Selain Wong Brothers, ada pula Tan’s Film, Nansing Film dan perusahaan milik Tan Boen Swan. Nansing Film dan perusahaan Tan Boen Swan memproduksi Resia Borobudur (1928) dan Setangan Berloemoer Darah (1928).
Masuk era film bicara, tercatat dua film tercatat sebagai film bicara Indonesia pertama adalah Nyai Dasima (1931) yang di-remake oleh Tan’s Film serta Zuster Theresia (1931) produksi Halimun Film. Di penghujung tahun 1932 beredar rumor kuat akan didirikan perusahaan film asal Amerika. Semua produser menjadi takut karena tak akan bisa menyaingi dan akhirnya Carli, Kruger dan Tan’s Film berhenti untuk memproduksi film. Studio yang masih bertahan adalah Cino Motion Picture. Beberapa tahun setelahnya muncul seorang wartawan Albert Balink yang mendirikan perusahaan Java Pasific Film dan bersama Wong Brothers memproduksi Pareh (1935). Film ini dipuji pengamat namun tidak sukses komersil. Balink dan Wong akhirnya sama-sama bangkrut. Pada tahun 1937, Balink mendirikan studio film modern di daerah Polonia Batavia yang bernama ANIF (Algemeene Nederland Indie Film Syndicaat) dan memproduksi Terang Boelan/Het Eilan der Droomen (1937). Kala ini Terang Boelan (1937) adalah film yang amat populer sehingga banyak perusahaan yang menggunakan resep cerita yang sama.
Pada tahun 1939 banyak bermunculan studio-studio baru seperti, Oriental Film, Mayestic Film, Populer Film, Union Film, dan Standard Film. Film-film populer yang muncul antara lain Alang-alang (1939) dan Rentjong Atjeh (1940). Pada masa ini pula kaum pribumi mulai diberi kesempatan untuk menjadi sutradara yang perannya hanya sebagai pelatih akting dan dialog.
Lalu, pada akhir tahun 1941, Jepang menguasai Indonesia. Semua studio film ditutup dan dijadikan media propaganda perang oleh Jepang. Jepang mendirikan studio film yang bernama Nippon Eiga Sha. Studio ini banyak memproduksi film dokumenter untuk propaganda perang. Pasca kemerdekaan RI pada tahun 1945, studio film milik Jepang yang sudah menjadi kementerian RI direbut oleh Belanda dan berganti nama Multi Film.
Era 1950-1980an
Lahirnya film pertama produksi pribumi diawali pada tahun 1950 dengan dibentuklah sebuah perusahaan produksi film pertama di Indonesia yang benar-benar milik pribumi yang dinamakan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini). Film pertama produksi Perfini adalah Long March Of Siliwangi atau Darah dan Doa (1950) yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Syuting film ini dimulai pada 30 Maret 1950. Lalu hari tersebut sangat bersejarah dan hari besar bagi Indonesia sehingga dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1999 Presiden B.J. Habibie menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Film Nasional dan Usmar Ismail lalu dikenal sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Di tahun berikutnya tahun 1951, hadirlah Metropole yaitu sebuah bioskop yang paling besar dan megah di kala itu. Pada tahun itu, bioskop mulai berjumlah pesat meski kebanyakan masih dimiliki oleh orang non pribumi.
Tahun 1954 hingga 1955, Perfini mengalami krisis finansial di mana film arahan Usmar Ismail lainnya berjudul Krisis (1953) tak mampu menutup utang bank meski pun sukses secara komersil. Lalu muncullah ide untuk mendirikan Persatuan Perusahaan Film Nasional (PPFN) yang dipelopori oleh Usmar Ismail dan Djamaludin Malik lalu juga menjadi anggota Federation of Motion Picture Producers in Asia (FPA). Persani dan Perfini bersama-sama memproduksi film Lewat Djam Malam(1954) disutradarai oleh Usmar Ismail.
Pada tahun 1955, diselenggarakanlah ajang penghargaan tertinggi dunia perfilman Indonesia yaitu Festival Film Indonesia (FFI). Ajang ini kemudian diadakan lagi di tahun 1960 dan 1967 dengan nama Pekan Apresiasi Film Nasional. Setelah itu diadakan secara teratur mulai tahun 1973 memakai nama awal, Festival Film Indonesia. FFI ini sempat terhenti di tahun 1992 dikarenakan perfilman Indonesia mengalami mati suri.
Sejarah juga mencatat awal bulan Maret tahun 1956 para pemain dan pekerja film membentuk PARFI (Persatuan Artis Film Nasional). Pada tahun 1957, PPFI memutuskan untuk menutup studio film mereka karena tak ada dukungan dari pemerintah kala itu. Djamaludin Malik ditangkap tanpa alasan yang jelas. Studio Perfini disita bank karena tidak mampu membayar hutang. Setelah diadakan perundingan dengan pemerintah pada tanggal 26 April 1957 akhirnya studio dibuka kembali. Namun kondisinya tidak seperti dulu dan kondisi perfilman nasional menjadi lumpuh.
Setiap genre film punya masa kejayaannya masing-masing. Sebut saja era 70-an yang banyak film-film dengan unsur erotisme di dalamnya karena saat itu ada desakan dari industri perfilman yang ditujukan kepada pemerintah agar sensor terhadap film Indonesia dilonggarkan layaknya film-film impor. Namun, di akhir tahun 1972 Badan Sensor Film kembali tegas terhadap unsur-unsur erotisme, seksual, dan kekerasan yang terkandung dalam film.
Sementara di era 80-an, genre film yang berkuasa di Indonesia adalah komedi dengan film-film dari grup lawak Warkop DKI, Dono, Kasino, dan Indro. Selain komedi, genre yang populer di era ini adalah horor yang didominasi oleh wanita cantik Suzanna.
Era 2000 – Sekarang
Pasca reformasi dianggap sebagai momentum awal kebangkitan perfilman nasional. Momen ini ditandai melalui film musikal anak-anak Petualangan Serina (1999) karya Riri Reza serta diproduseri Mira Lesmana yang sukses besar di pasaran. Seperti yang telah disebutkan tadi, FFI sempat terhenti di era 90-an hingga 2000, karena minimnya jumlah produksi film Indonesia yang mungkin terpicu karena munculnya televisi swasta di akhir tahun 80-an. Namun, setelah itu hadir Jelangkung (2001) dan AADC? (2002) yang memicu kembali dan menjadi titik tolak produksi film-film lokal. Kesuksesan film arahan Rudi Soedjarwo di tahun 2002 itu mulai memunculkan dilm-film drama romantic remaja lainnya seperti Eiffel I’m in Love(2003), Love in Perth (2010), Cinta Pertama (2006), dan Purple Love (2011).
Selain drama romantis, muncul juga banyak film bergenre horor yang mungkin ingin mengikuti jejak Jelangkung pada saat itu, tetapi memunculkan kembali erotisme seperti era 70-an. Film anak-anak diproduksi tidak sebanyak film roman dan horor namun film bertema ini seringkali sukses besar di pasaran.
Saat ini, perfilman Indonesia lebih berwarna lagi dengan beberapa film aksi walau pun nampaknya kini kejayaan film komedi akan mengambil kemudi perfilman Indonesia tahun ini dengan banyaknya pelaku Stand Up Comedy yang meramaikan box office Indonesia. Dan semakin banyak genre baru yang diproduksi oleh para sineas Indonesia kali ini. Besar harapannya, dunia perfilman Indonesia bisa semakin membaik dan meningkat terutama dari segi kualitas film yang mereka produksi. Serta semangat para filmmaker kita bisa mengalami masa kejayaan kembali guna meningkatkan gairah akan berproduksi supaya dunia perfilman bisa menjadi garda terdepan ruang media komunikasi terbesar yang berseni di Indonesia.
Blog Comments (02)
Very good post, keep up the good work. Thanks!
Good work , very interesting post, have a wonderful day.