Hal yang Bisa Kita Pelajari dari Style Film Wes Anderson
Sudah sebuah kesepakatan umum jika Wes Anderson memiliki gaya yang unik dalam bagaimana ia bercerita dan memvisualisasikan semua filmnya.
www.imdb.com
Wes Anderson seakan memiliki genre filmnya sendiri dengan bakatnya
yang bisa membuat suatu dunia fantasi dengan karakter-karakternya yang khas.
Latar belakang cerita filmnya pun bermacam-macam, mulai dari musim panas suatu
pulau di tahun 1960an pada film Moonrise
Kingdom (2012) sampai versi jatuhnya masa depan Jepang dalam film Isle of Dog’s (2018). Cerita-cerita
miliknya punya karakter yang kuat dan cenderung berkutat pada tema yang berat
seperti sesuatu yang abnormal.
Meskipun
beberapa dari kalian mungkin bukan penggemar dari keunikan Anderson tersebut,
tapi kemampuannya dalam memilih warna, set
design, dan sinematografi untuk membuat visual yang khas menjadi suatu
perkembangan dalam perfilman. Pendekatannya dalam menulis cerita dan karakter
bisa menjadi inspirasi bagi para penulis lainnya dalam menemukan gayanya
masing-masing. Seluruh elemen dalam film seakan dipilih dengan baik oleh pria
asal Texas ini, untuk dijadikan sesuatu yang sempurna dan membawa karakter
menjadi nyata.
Dalam suatu wawancara promosi filmnya The Darjeeling Limited (2007), Anderson menjelaskan ada beberapa hal dalam filmnya yang ia gunakan secara berulang karena hal itu seperti identitas dirinya. “Semua hanya berjalan sesuai yang saya suka. Saya merasa punya suatu ide tentang apa yang terbaik untuk cerita yang saya buat, jadi saya hanya mengikuti itu. Meskipun orang-orang jadi langsung mengenali jika itu khasnya ‘saya’,” jelas pria kelahiran 1 Mei 1969 ini.
www.artdepartmental.com
Karakter
Pada tahun 2014
dalam wawancaranya tentang film The Grand
Budapest Hotel (2013), Anderson bicara soal bagaimana ia sering menggunakan
karakter yang sama dalam banyak filmnya. Ia berharap karakter ini bukan menjadi
sebuah gangguan atau dianggap sebagai kameo saja karena mereka cenderung nyentrik dan mudah dikenali.
Dalam proses penulisan naskah, suami dari Juman Malouf ini juga menyarankan untuk karakter dibuat dulu sedemikian rupa; menjadi sebuah sosok yang besar dan sifat yang sangat konyol. Namun jika itu dirasa terlalu berlebihan, kalian bisa merombak karakter itu dan memulainya kembali dari awal. Anderson juga mengatakan kadang karakter buatannya terlalu “aneh” dan “abnormal”. Namun, biasanya ia juga terinspirasi dari orang-orang disekitarnya yang sedikit ditambahi beberapa hal. Karakter-karakter ini harus datang dari hati dan emosi, untuk mendasari kemana nantinya arah karakter itu.
Wardrobe
www.instagram.com/cinema_dream
Sama seperti karakternya yang aneh dan unik, Anderson juga menyadari jika wardrobe atau kostum yang digunakan akan membuat karakternya stand out dan menjadi elemen yang bisa mengembangkan filmnya. Ia sering mendiskusikan pentingnya kostumdengan para aktor dan krunya.
Aktor Willem Dafoe (The Grand Budapest Hotel) bahkan mengatakan ketika sebelum produksi film, ia diberikan kostum dan diminta untuk membuat karakternya ‘hidup’ dengan kostum tersebut. Menurut Anderson masih ada beberapa ‘ruang kosong’ dalam kostum yang perlu Dafoe buat dengan fantasinya, namun itu harus cocok dengan keinginan dari Anderson. “Pada akhirnya, kostum itu harus menjadi sesuatu yang sangat ia inginkan,” kata Dafoe. “Anderson tidak terlalu menggunakan fantasi orang lain, kecuali memang cocok dengannya.”
Color Palettes
www.mariascrapbook.tumblr.com
Sutradara yang tinggal di Perancis ini sebenarnya terobsesi dengan
warna kuning dan merah (bisa dilihat dari banyak set design film miliknya), serta sedikit turunan dari warna biru
dan campurannya. Filmnya sering menggunakan warna-warna cerah yang membuat
penonton lebih mengenali perbedaan dalam gaya visualisasi dan berceritanya
dalam tone film.
Gayanya itu
sebenarnya mirip dengan keunikannya dalam bercerita. Karakter-karakternya
cenderung membahas topik yang menyedihkan, namun dalam kondisi emosi yang riang
atau dialog tanpa ekspresi. Ketika sesuatu yang sedih terjadi dalam karakternya
di film namun latar set-nya
berwarna-warni dan cerah, menurutnya itu terkadang memunculkan suatu humor
visual.
Namun intinya, ketika membuat film jangan melupakan bagaimana pentingnya warna terhadap penonton dan pengaruhnya pada perubahan mood dalam cerita.
Cinematography
Sebenarnya ada beberapa gaya visual yang Anderson konsisten gunakan,
termasuk shot dengan komposisi flat dan objek tepat pada center (simetris), atau biasanya
menggunakan lensa yang jangkauannya luas. Ayah dari satu anak ini juga sering
menggunakan sequences yang slow-motion, teknik swish panning, atau shoot dari
atas kepala yang memperlihatkan hal-hal yang terorganisir (knolling).
Bahkan pada suatu wawancara di
tahun 2015, Robert Yeoman yang merupakan sinematografer dari film Anderson,
membeberkan soal aspek teknik yang biasanya menjadi visi sutradaranya itu.
“Saya bahkan sampai hafal, begitu Anderson tiba di ruangan dan menghampiri
saya, kalimat pertamanya adalah ‘Apakah kita sudah simetris sesuai dinding?’,”
ucapnya.
www.indiewire.com
Ketepatan simetris Yeoman menjadi penting untuk mendukung teknik swish pan yang sering menjadi gaya dari Anderson. Letak posisi aktor juga menjadi hal yang sangat krusial, namun Yeoman mengatakan jika biasanya yang sering meminta aktornya untuk berpindah tempat adalah Anderson sendiri. Satu yang penting adalah komunikasi dengan para kru supaya visualisasinya sesuai dengan keinginan sutradara.
Set Design
Set dalam film Anderson seakan menjadi suatu hal yang tidak
terpisahkan dengan segala visi shoot
yang ia miliki. Ia menggunakan latarnya seperti karakternya, yaitu sama-sama
memiliki suatu personality.
www.ranker.com
Dalam proses
pembuatan The Grand Budapest Hotel,
Anderson sendiri mengubah sebuah bangunan mall yang tidak terpakai menjadi
sebuah hotel yang mewah, dengan sedikit sentuhan gaya Eropa Barat. Ia sangat
memperhatikan setiap elemen yang ada di set dan menggunakan ruang-ruang yang
ada menjadi sesuai kebutuhannya. Dalam film ini juga ada tantangan yaitu
bagaimana mengambil latar set yang berbeda, dari tone kecoklatan pada tahun 1960an dan ke tone merah dan pink pada tahun 1930an.
Sebenarnya
apa yang menjadi pertimbangan dalam menentukan set design adalah budget
dan tempat yang sudah tersedia, tapi Anderson menunjukkan bagaimana mengubah
sesuatu dengan kreatif.
Dari banyaknya gaya visualisasi dan bercerita Wes Anderson di atas ini, bagian mana yang menjadi favorit kalian?
artikel ini ditulis oleh Annisa Finnuala A. diresume dan diterjemahkan dari artikel asli: https://nofilmschool.com/Wes-Anderson-Style-Explained
(penulis berstatus sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta 2017 dan merupakan anggota aktif dari AVIKOM)
Leave A Reply Now