Bebas : Tentang Menjadi Diri Sendiri, Pahitnya Realita, dan Toleransi
Bagi beberapa orang, agenda menyusun
rencana kedepan menjadi hal yang dilakukan pertama kali setelah menyelesaikan
tingkat pendidikan. Apakah itu hendak langsung bekerja, memulai jenjang pendidikan
yang lebih tinggi, atau berkuliah sambil bekerja. Motivasi dan semangat untuk
menjalani hidup semakin bertambah. Hidup kita hendak memasuki level yang baru
dan lebih tinggi. Namun, saya yakin pasti ada dari kita yang merasa bahwa apa
yang dilakukan ternyata tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Bagi saya,
film Bebas karya Riri Riza
merepresentasikan keresahan tersebut dengan sangat baik.
Film Bebas dibuka di sebuah pagi di kediaman Vina Panduwinata (Marsha Timothy), seorang ibu rumah tangga yang setiap pagi beraktifitas dirumah, menyiapkan sarapan untuk suaminya (Darius Sinathrya), seorang pengusaha yang sangat sibuk, dan anak perempuannya Mia (Syifa Hadju) yang beranjak dewasa. Setelah menyiapkan sarapan, Vina menjenguk ibunya (Sarah Sechan) di rumah sakit. Di rumah sakit itulah Vina bertemu dengan sahabat lamanya, Kris Dayanti (Susan Bachtiar). Diketahui Kris mengidap kanker paru- paru dan hidupnya tersisa dua bulan lagi. Kris meminta Vina untuk mengumpulkan teman- teman satu gengnya ketika SMA, Jessica (Agatha Priscilla, Indy Barends), Suci (Lutesha), Gina (Zulfa Maharani, Widi Mulia), dan Jojo (Baskara Mahendra, Baim Wong), sebelum ajal menjemputnya.
Tentang menjadi diri sendiri dan pahitnya realita
Selepas angkat kaki dari SMA, Geng
Bebas ternyata tidak seperti apa yang mereka harapkan. Kehidupan Vina terasa
biasa- biasa saja semenjak berkeluarga. Suaranya bahkan tidak dihiraukan oleh
anaknya Mia yang ia minta untuk pergi menjenguk sang nenek di rumah sakit. Kris
menjadi pengusaha yang sukses, namun ia tidak memiliki siapa- siapa yang bisa
mengurusnya ketika ia sedang sakit keras. Gina yang bercita- cita menjadi
pengusaha sukses, terpaksa harus ikut mengecap rasa pahit dari kebangkrutan
orang tuanya. Ia juga harus pindah ke sebuah rumah kontrakan yang bahkan belum
ia bayar selama beberapa bulan. Selama beberapa tahun bekerja di asuransi,
belum juga Jessica mendapat gelar ‘ratu asuransi’ yang diberikan oleh
atasannya. Ayah Jojo yang ‘kokay
(kaya) berat’ butuh seseorang yang bisa mewarisi perusahaanya. Itu sebabnya
Jojo tidak bisa melanjutkan keinginannya menjadi seorang koreografer. Sampai
Suci yang bahkan tidak terdengar lagi kabarnya semenjak insiden di sekolah
merusak karirnya sebagai model majalah.
Semua karakter merasakan pahitnya
realita yang mereka alami. Realita tidak membuat mereka menjadi diri mereka
sendiri. Namun, Bebas, tidak serta
merta mengatakan bahwa kita harus bisa keluar dari realita yang membelenggu diri
kita sendiri, atau solusi lainnya secara gamblang. Bebas menawarkan perspektif bahwa progres dibutuhkan untuk
keberlangsungan hidup kita.
Dipertemukannya Geng Bebas kembali menjadi sebuah alamat yang akan mereka tuju ketika mereka sedang ingin menjadi diri mereka sendiri. Mereka yang saling menerima, dan yang saling berbagi suka dan duka.
Tentang toleransi dan menerima apa adanya
(sumber : imdb.com)
Dari Bebas, yang menarik bagi saya
(selain kecantikan si cover girl Suci
yang turut mewakili kalimat ‘cantik tidak harus dengan rambut panjang lurus dan
kulit putih langsat’) adalah karakter Jojo. Jojo mengingatkan saya pada masa-
masa sekolah. Beberapa kumpulan sahabat yang saya tau (yang anggotanya adalah
perempuan) mempunyai satu anggota laki- laki di dalamnya.
Di dalam cerita, karakter Jojo
memiliki keresahan yang membuat hati
saya cukup tersayat. Jojo pernah membina rumah tangga dengan seorang wanita,
namun hanya berlangsung satu tahun. Orientasi seksual merupakan penyebab utama
ia bercerai. Kewajiban memiliki istri dan anak menjadi sesuatu yang
ditanggungkan ke pundak Jojo sebagai laki- laki di dalam keluarganya.
Perlakuan yang berbeda dilakukan oleh Geng Bebas. Mereka menerima Jojo apa adanya. Bahkan, Vina sempat memperingatkan agar Jojo memikirkan masa depan hubungannya dengan perempuan yang saat itu menjadi kekasihnya. Bebas juga tidak secara gamblang menyampaikan relationship bagaimana yang seharusnya benar. Melalui pesan Kris pada Jojo, Bebas menyampaikan bahwa yang ideal adalah cinta sejati.
Hasil adaptasi dari Sunny yang sebenarnya ada yang harus dibenahi
(sumber : akurat.co)
Sunny,film asal Korea
Selatan yang disutradarai oleh Kang Hyeong Cheol ini sudah diadaptasi di
beberapa negara. Seperti Jepang (Sunny:
Tsuyoi Kimochi Tsuyoi Ai) dan Vietnam (Go
Go Sisters). Hollywood juga sudah
memproduksi adaptasi dari Sunny namun belum dirilis. Setiap adaptasi dari
Sunny, memiliki ciri khasnya masing- masing. Dengan latar tahun 1980-an, Sunny
mengangkat kondisi ekonomi dan politik di Korea Selatan yang sedang goyah kala
itu. Bebas rupanya memilih tahun 1995
dengan alasan yang hampir sama. Organisasi masyarakat yang akhirnya pada tahun
1998 turut menggulingkan rezim Orde Baru saat itu sedang gencar- gencarnya
dibentuk. Tawuran antar pelajar yang saat itu masih sangat marak,
divisualisasikan di dalam Bebas
dengan tidak tanggung- tanggung. Kesimpulannya, Bebas adalah film yang sangat menghibur dengan visualisasi tahun
1995 yang apik.
Diluar semua itu, sayangnya masih ada
yang harus dibenahi dari Bebas. Cara
Riri Riza menyampaikan apa akibat yang diterima Geng Bebas pasca insiden di
sekolah yang menimpa Suci terasa kurang memuaskan. Hanya secara verbal saja
disampaikan melalui dialog Kepala Sekolah. Selebihnya, tidak ada. Dampaknya
terhadap Geng Bebas dan orang- orang disekitarnya, tidak dijelaskan bagaimana.
Namun, secara keseluruhan, film ini bisa masuk sebagai koleksi film terbaik Indonesia di tahun 2019, yang mild dan menghibur. Bebas juga menjadi film yang menawarkan perspektif baru terhadap stereotip yang berkembang di masyarakat tanpa harus menghakimi.
artikel ini ditulis oleh Amalia Putri Budi Utami
(penulis berstatus sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta 2016 dan merupakan anggota aktif dari AVIKOM)
Leave A Reply Now