Bulan september menjadi bulan yang mencerminkan aman serta damainya dunia. Dimana dunia terhindar dari kerusuhan, serta terciptanya suasana yang tentram dan tenang. Karena pada bulan ini, tepatnya pada tanggal 21 September merupakan peringatan Hari Perdamaian Internasional. Di tanggal ini, dunia diajak untuk menghormati serta menghargai kemanusiaan dan yang terutama untuk mengakhiri perang dan kekerasan.
Untuk memperingati hari besar ini ada berbagai bentuk dan cara. Sebagai filmmaker, memperingati besar ini tidak hanya dengan membuat film yang menceritakan tentang perdamaian atau hal yang menyangkut itu. Sebuah langkah lainnya yaitu dengan adanya International Film Festival for Peace, Inspiration and Equality (IFFPIE). Selain bertujuan untuk memperingati Hari Perdamaian Internasional, festival ini bertujuan untuk mengapresiasi karya para filmmaker yang telah menunjukkan pada kita bahwa isu-isu perdamaian telah menjadi isu bersama yang selalu ada di kehidupan kita.
IFFPIE merupakan festival film perdamaian berskala internasional yang telah berlangsung selama enam tahun. Film yang diseleksi pada festival ini memfokuskan film-filmnya kepada tema-tema perdamaian, inspiratif, kesetaraan, dan kemanusiaan. Festival ini bekerjasama dengan International Dilm Competition (IFCOM) dan didukung oleh Madukara, Dewan Kreatif Rakyat (DKR), World Film Council, Film Festivals Alliance, i-Hebat International Volunteers, dan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media partner.
Pendiri festival ini merupakan orang asli Indonesia yaitu Damien Dematra, yang juga merupakan filmmaker di Indonesia. Dilansir dari satu website, menurut ia tujuan utama festival ini ialah untuk mempromosikan karya-karya film yang dapat “mengubah” dunia, baik skala kecil maupun skala besar.
Pada tahun 2017 lalu, terdapat sembilan film yang lolos seleksi dari 526 film berskala internasional yang terdaftar. Kesembilan nominasi film terbaik tersebut adalah Film Aimee, disutradarai oleh Lee Whittaker, Film Ensemble oleh Toowa2, Film Fighting to be Free disutradarai oleh Cheryl Halpern, Film In the Name of Peace: John Hume in America disutradarai oleh Maurice Fitzpatrick, Film Indigo Child disutradarai oleh Wagner de Assis, Kawomera: Plant, Pray, Partner for Peace disutradarai oleh Marla Mossman, Shattered disutradarai oleh Yeeshai Gross and Matt Scott, WishMakers disutradarai oleh Cheryl Halpern, Film You Know What I Wish For oleh Irina Arms.
Oleh karena itu, perdamaian dunia merupakan slogan, tujuan, serta cita-cita semua makhluk di dunia ini yang telah didengungkan sejak dulu. Hal ini hanya akan tetap menjadi untaian kata yang hiperbolis apabila setiap manusia berangan bahwa hal ini adalah kewajiban sekelompok atau individu tertentu. Jika setiap insan sebagai warga masyarakat dunia berperan aktif mengupayakan hal ini akan terwujud secara konsisten, maka kekuatan massa yang kumulatif dan berkesinambungan akan dapat mempertahankan dan meningkatkan perdamaian global. Sehingga dengan adanya lingkungan yang kondusif, maka tiap manusia dapat berkembang sesuai kemampuan, karakter, tujuan hidup mereka masing-masing.
Mengingat perfilman di dunia tidak ada habisnya dan selalu menjadi pilihan hiburan utama bagi para masyarakat dunia. Film juga sebagai media penyalur aspirasi masyarakat, golongan tertentu,dan terutama para sineas untuk memberikan ide-ide serta membagikan sebuah fenomena yang ada di dunia ini. Maka, dengan adanya festival ini bisa mendorong para filmmaker memproduksi sebuah film yang akan dibagikan kepada masyarakat sebagai pengingat bahwa banyaknya masyarakat yang memperjuangan perdamaian supaya tetap utuh dengan berbagai langkah dan melalu berbagai media. Selamat Hari Perdamaian Internasional!
Leave A Reply Now