Semenjak awal kemunculannya hingga saat ini, film sudah banyak sekali mengalami perubahan dalam cerita maupun proses pembuatannya. Perubahan-perubahan ini dapat ditinjau mulai dari teknologi yang digunakan, teknik-teknik pembuatan film yang baru, hingga berbagai ide atau style pada film yang kian beragam. Lahirnya evolusi dalam dunia sinema ini salah satunya didasari oleh gerakan-gerakan yang disebut sebagai film movement.
Apa itu film movement? Film movement atau gerakan perfilman adalah sebuah pergerakan yang membentuk tren pada dunia filmmaking, di mana tren ini dapat merefleksikan waktu, masyarakat, budaya, situasi sosial dan politik pada sebuah wilayah tertentu. Setiap film movement memiliki karakteristik yang berbeda, baik dari segi style, tema, hingga bagaimana pengaruhnya dalam proses pembuatan film. Perbedaan-perbedaan tersebut kemudian menciptakan keberagaman dan perkembangan dalam perfilman. Oleh sebab itu, film movement memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk sinema dunia sampai saat ini.
Dalam sejarahnya, terdapat banyak sekali film movement yang terjadi di berbagai negara. Berikut ini adalah lima film movement yang memiliki dampak besar bagi negaranya maupun dunia, yaitu:
German Expressionism (1919-1926)
German Expressionism lahir setelah kejadian Perang Dunia I. Gerakan ini lahir karena kebijakan dari pemerintah Jerman saat itu yang melarang penayangan film-film asing. Kebijakan tersebut akhirnya memantik filmmaker Jerman untuk menciptakan film-film baru. German Expressionism memiliki ciri khas, yaitu filmnya yang cenderung menyeramkan dengan pencahayaan yang kontras dan ceritanya yang surealis. Gerakan inilah yang kemudian sangat memengaruhi genre film horor dan noir.
Contoh film: Cabinet of Dr. Caligary (1919), Nosferatu (1922), Faust (1926), Metropolis (1927)
Italian Neorealism (1942-1951)
Setelah Perang Dunia II, sebuah film movement yang revolusioner terjadi di Italia. Italian Neorealism merupakan sebuah gerakan yang melahirkan film-film baru yang berbeda dengan film-film di Hollywood. Film-film Italian Neorealism memiliki penceritaan yang autentik dan realistis dalam menggambarkan lanskap kehidupan masyarakat yang pahit dan penuh perjuangan, terutama setelah Perang Dunia II terjadi. Adapun ciri khas dari film-film ini adalah penggunaan aktor non-profesional, lokasi yang nyata, dan berfokus pada isu-isu sosial seperti kemiskinan dan ketidakadilan.
Contoh film: Open City (1945), Shoeshine (1946), The Bicycle Thief (1949).
French New Wave (1959-1964)
French New Wave atau La Nouvelle Vague bisa dibilang sebagai film movement yang paling populer dalam sejarah sinema dunia. Gerakan yang berasal dari Prancis ini berhasil mengubah sinema Prancis dan juga industri film secara umum. Para sineas French New Wave enggan menggunakan struktur film tradisional dan membuat inovasi-inovasi baru, seperti jump cut, alur cerita yang non-linier, pencahayaan alami, dan pengambilan gambar di lokasi. Gaya-gaya tersebut digunakan untuk menciptakan kesan yang dekat dan personal.
Contoh Film: The 400 Blows (1959), Breathless (1960), The Umbrellas of Cherbourg (1964)
Japanese New Wave (1956-1970)
Film movement rupanya tak hanya terjadi di wilayah Eropa, melainkan juga Asia. Salah satu film movement yang terjadi di Asia adalah Japanese New Wave. Japanese New Wave merupakan gerakan yang cenderung individualis, di mana gerakan ini dilakukan oleh masing-masing filmmaker Jepang saat itu. Narasi yang diangkat pada film-film ini juga bersifat kontroversial dan tabu, yakni mengangkat isu-isu sosial seperti kekerasan, radikalisme, seksual dan lain sebagainya. Cerita yang diangkat tersebut dibarengi dengan eksekusi yang unik sehingga menghasilkan sajian yang eksperimental.
Contoh Film: Woman in the Dunes (1964), Onibaba (1964), The Face of Another (1966)
Indian Parallel Cinema (1950an-1970an)
Selain Jepang, India juga memiliki film movement-nya sendiri. Terinspirasi dari Italian Neorealism, Parallel Cinema hadir sebagai alternatif dari film-film India mainstream saat itu. Parallel Cinema lahir di masa transformasi sosial, di mana India sedang menghadapi masalah-masalah seperti kemiskinan dan dampak kolonialisme yang masih terasa. Oleh sebab itu, film-film Parallel Cinema ini memiliki pendekatan yang realistis dan mengangkat narasi dengan tema-tema seperti reformasi lahan, urbanisasi, dan perjuangan masyarakat terpinggirkan.
Contoh Film: Panther Pancali (1955), Aparajito (1956), 27 Down (1974), Ankur (1974)
Artikel ini ditulis oleh: Marcel Abraham Siahaan, email: popncul@gmail.com

