
Terkadang, banyak luka emosional lahir bukan dari hal-hal rumit dan jauh, bisa jadi hal tersebut dibentuk melalui lingkungan yang paling lekat keterikatannya dengan kehidupan kita, yaitu keluarga. Sebagai sutradara, Chheangkea mengangkat isu berlapis yang mewarnai film dengan durasi 19 menit ini mulai dari favoritisme, tradisi, identitas queer sampai ke luka emosional. Film garapan Anti-Archive, Nomad Production yang diproduksi pada tahun 2025 dengan pengembangan ide cerita yang memukau telah menghantarkan film Grandma Nai Who Played Favorites bertengger menjadi penerima penghargaan penting dalam beberapa kategori film pendek, seperti: Asian American International Film Festival 2025, USA, Curta Kinoforum São Paulo International Short Film Festival 2025, Brazil, ANONIMUL International Independent Film Festival 2025, Romania sampai Golden Grape International Short Film Festival 2025, Georgia.

Film yang sempat meramaikan 20th Jogja-NETPAC Asian Film Festival ini berawal dari keluarga Qiming yang melakukan ziarah kubur ke pemakaman nenek mereka. Di tengah riuhnya suasana ziarah, nenek Nai, yang merupakan entitas hantu segera mengetahui bahwa Meng, cucu kesayangannya akan segera melakukan perjodohan dengan seorang wanita lewat percakapan yang nenek Nai dengar selama mengamati keluarganya disana. Nenek Nai yang mengetahui bahwa identitas cucunya adalah seorang queer, memutuskan untuk turun tangan dalam perjodohan itu.
Dengan durasi pendek, film ini bercerita secara perlahan dan bertahap, film ini secara konsisten mengajak kita memahami tentang keberpihakan anggota keluarga pada tradisi dan menganggap pendapat pribadi sebagai urusan kolektif. Isu ini diangkat menggunakan gaya sutradara yang mengandalkan gestur tanpa adanya dialog panjang, memberikan ruang kepada penonton untuk merasakan lapisan perasaan setiap karakter. Alih-alih menghadirkannya secara gamblang, isu identitas dapat Chheangkea sajikan secara implisit melalui relasi sosial antar karakter. Meskipun terkesan horror karena bertema bangkit dari kematian, sutradara Grandma Nai Who Played Favorites berhasil menghadirkan para entitas hantu melalui sudut pandang yang ringan sekaligus mengundang tawa.
Meskipun drama keluarga lekat hubungannya dengan suasana yang tentram, muram, atau menyejukkan, Grandma Nai Who Played Favorites hadir dengan tone film yang kontras dan hidup. Melalui pemilihan warna pada busana setiap karakter dengan warna cerah seperti merah, biru, atau pink dipadukan dengan pakaian tokoh lain yang bercorak, juga aksesoris yang mencolok seperti kacamata, topi pantai, dan perhiasan yang dikenakan setiap karakter mendominasi layar dan menegaskan kontras emosional di dalam film. Didukung oleh soundtrack dan scoring yang memperkuat tiap adegan, cerita ditutup tanpa jawaban mutlak, memberikan ruang bagi para penonton untuk menafsirkan ending sebagai bentuk refleksi.


Salah satu scene ‘emas’ yang terdapat dalam film ini adalah saat Meng, pemeran utama melakukan karaoke bersama perempuan yang akan dijodohkan olehnya. Momen tersebut menjembatani akhir film dengan irama musik kamboja yang menjadi penanda awal kebebasan. Ketika scene dilanjutkan dengan scene Meng menari bersama Nenek Nai, tarian itu tidak hanya merepresentasikan kebahagiaan tetapi juga sebagai simbol kebebasan yang bisa ia rasakan. Tubuhnya bergerak menjadi penanda kebebasan tidak selalu berarti keluar dari sistem, mungkin bentuknya bisa berupa keputusan untuk pada akhirnya memilih setia pada diri sendiri.

Chheangkea berhasil menghadirkan film emosional bertema keluarga dengan suasana baru yang penuh warna, menunjukkan bagaimana semakin hidup warnanya semakin dalam permasalahan sosial yang sering luput dari sudut pandang kita sebagai seorang manusia. Film yang mengangkat isu sosial berlapis ini mengajak kita sejenak berpikir: apakah kita sudah cukup menjadi keluarga yang baik bagi keluarga kita sendiri atau mungkin malah menjadi bagian dari orang-orang yang meletakkan keluarga di atas perasaan pribadi?
Artikel ini ditulis oleh Nadya Rafeyfa Putri Ardian, email: rafeyfa.nadya210@gmail.com

