
Penerimaan terkadang lahir bukan dari keikhlasan, melainkan dari pengorbanan hingga kehilangan. Sammi, Who Can Detach His Body Parts (2025) film pendek yang berpijak dari visi Rein Maychaelson, berhasil membawakan alur cerita bertajuk tekanan sosial yang dibalut dengan metafora horror body. Di tahun 2025, Karya ini telah berkelana ke berbagai negara dan meraih berbagai penghargaan festival seperti FFI, HIFF, KFF, Berlinale, dan masih banyak lagi. Kabar menggembirakannya, film ini telah memenangkan 2 penghargaan, yang mana penghargaan tersebut sebagai kategori film eligible nominasi oscar 2026.
Film ini menceritakan seorang laki-laki bernama Sammi yang diperankan oleh Jefri Nichol yang memiliki kekuatan aneh sejak lahir yaitu dapat melepas dan memasang bagian anggota tubuhnya ke orang lain. Namun, suatu ketika Sammi ditemukan meninggal di apartemennya hingga sang ibu yang diperankan oleh Djenar Maesa Ayu ingin memakamkannya dengan kondisi badannya yang utuh. Ternyata, sisa temuan anggota tubuh Sammi membawa sang ibu menemukan berbagai fakta yang mengejutkan mengenai kehidupan mereka kedepannya.

Rein Maychaelson berhasil merangkai alur cerita dengan tempo yang pelan sehingga membuat film ini terasa menegangkan dan memikat penonton di setiap scene yang diberikan. Setiap adegan memiliki detail unik yang menuntun kesadaran penonton untuk lebih mendalami apa yang sedang dialami dan dirasakan oleh para karakternya sehingga timbul berbagai suasana yang natural.
Rein Maychaelson menggunakan metafora body horror pada anggota tubuh sammi bukan sekadar sebagai elemen biasa, melainkan sebagai representasi visual dari manusia yang perlahan kehilangan jati dirinya. Setiap bagian tubuh yang dilepas dan diberikan ke orang lain menandakan lapisan dari berbagai identitas yang perlahan dikorbankan. Mulai dari keinginan pribadi, batasan diri, hingga harga diri itu sendiri. melalui treatment ini, Rein menempatkan tubuh sebagai medan konflik batin, di mana Sammi tidak hanya terganggu secara fisik, tetapi juga psikologis dan sosial. Perlahan, penonton sadar akan kehancuran bukan terjadi dalam satu momen, melainkan melalui proses panjang penerimaan diri karena keputusasaan.
Peran Sammi menjadi pembelokan menarik bagi Jefri Nichol yang biasanya tampil sebagai sosok karismatik dan tegas, namun di sini justru hadir sebagai pribadi yang rapuh, tidak enakan, dan cenderung people pleaser, sehingga penderitaannya terasa semakin nyata. Sementara itu, Djenar Maesa Ayu memainkan sang ibu dengan emosi yang tertahan dan dingin, membuat perubahan sikapnya menuju pemahaman terasa subtil namun menyentuh, sekaligus menjadikannya salah satu pusat emosional film ini.

Dari segi visual, film ini membangun atmosfer yang terasa hampa, tertekan, dan penuh beban melalui komposisi gambar yang sempit dan pencahayaan gelap bernuansa low-key. Tone warna yang cenderung suram dan dingin memperkuat rasa kecemasan sekaligus keterasingan, seolah dunia film ini memang tidak memberi ruang bagi para karakternya untuk benar-benar diterima. Scoring-nya bekerja seperti denyut nadi tersembunyi yang menyelaraskan ritme emosi dengan visualisasi. Musik tidak memaksakan perasaan, melainkan membuat setiap transisi hubungan antar ibu dan anak lebih terasa organik, seolah penonton sedang berpindah lapisan batin, bukan sekadar berpindah adegan.

Salah satu hal paling menarik sekaligus menjadi favorit saya dalam film ini adalah keberaniannya dalam merepresentasikan efek visual organ tubuh dengan pendekatan yang halus dan penuh kontrol. Alih-alih mengeksploitasi detail yang menjijikkan atau sensasional, film ini memilih jalur yang lebih subtil, sehingga setiap potongan tubuh justru terasa lebih mengganggu secara emosional daripada sekadar mengejutkan secara visual. Pendekatan ini membuat efek visualnya tidak berdiri sendiri sebagai tontonan, melainkan menyatu dengan tema tentang kehilangan, keterasingan, dan tubuh sebagai ruang luka.
Pada akhirnya, Sammi: Who Can Detach His Body Parts mengingatkan kita bahwa tidak semua ketenangan berarti rasa aman, dan tidak semua keheningan menyimpan kedamaian. Film ini berbicara tentang bagaimana kekurangan bisa terasa seperti beban, tetapi bahkan kelebihan pun dapat berubah menjadi kesenjangan. Di balik tubuh yang terbelah dan relasi yang rapuh, tersimpan pesan yang kuat bahwa menjadi diri sendiri sering kali adalah perjuangan, dan tidak semua orang mampu melakukannya sendirian. Dalam kesunyian, film ini justru mengulurkan empati yang menjadi sebuah pengingat bahwa, seberapa pun terasingnya kita, hal-hal kecil pasti selalu mengisi ruang kita.
Artikel ini ditulis oleh Elgi Noya Chrisseira, email: elginoya5@gmail.com

