Film dokumenter “Living in Rob” karya Fuad Hilmi Hirnanda bercerita tentang bagaimana masyarakat Pekalongan (Jawa Timur) yang hidup ditengah derasnya kawasan Rob atau yang dikenal dengan banjir karena volume air laut yang semakin tahun kian meningkat. Tanpa memojokkan satu pihak, Fuad mampu menyuguhkan film yang syarat akan urusan sosial maupun problematika didalamnya.
Bagaimana masyarakat yang terus berjuang dan bertahan hidup dalam genangan air Rob. Sementara Rob memang kita ketahui sebagai salah satu bencana alam, namun tidak dengan warga Pekalongan ini. Meski dengan banyak keterbatasan, tahun demi tahun mereka lalui dengan apa adanya. Jika mengeluhkan air yang setiap hari menemani di ruang ruang rumah mereka lalu apa yang akan mereka dapatkan selain kemirisan?
Dari percakapan yang ditayangkan dokumenter film tersebut ada segelintir asa yang masyarakat selipkan di dalamnya. Relokasi atau pembendungan dari pihak pemerintah tentu sangat bermanfaat baginya. Namun, alih-alih berkomentar dengan sikap pemerintah para narasumber yang ada tetap menjalankan kesehariannya dengan lapang dada. Ada yang pergi melaut, kerja, sekolah, dan bahkan anak-anak sangat menikmati lingkungan yang dipenuhi banjir Rob tersebut. Tak ayal saya pun merasa haru akan hal tersebut. Bagaimana tidak? Genangan banjir yang syarat akan kekumuhan, sarang penyakit, dan kesehatan yang minim itu mampu menghadirkan senyum di tiap tiap mimik dari anak-anak daerah Pekalongan tersebut.
Lain lagi dengan tanggapan pemerintah terkait Rob yang melanda daerah pesisir pantai utara itu. Bukan bencana, namun fenomena alam biasa yang ditangkapnya, sikap yang menimbulkan sebuah ironi diatas ironi bagi masyarakat. Namun dengan filmnya ini, Fuad tentu telah mentrasfer seluruh kegelisahan yang ada dalam benaknya untuk masyarakat luas. Hal ini merupakan pencapaian besar yang patut diapresiasi. Bahkan bagi mahasiswa yang tak biasa tinggal dan berbaur di daerah Rob, dirinya mampu menyelesaikan film ini dengan turut serta merasakan apa yang warga Pekalongan itu rasa.
Seperti saat diskusi dirinya mengaku bahwa kurang lebih 1 minggu dirinya berada langsung ditengah-tengah perkampungan yang terendam Rob itu. Dan lagi, jika hal ini tak ditanggulangi secara serius oleh pemerintah, lantas pihak manakah yang bisa memiliki otoritas untuk membantu warga daerah tersebut? Akankah menunggu sampai rumah terakhir tenggelam untuk menyadarkan seluruh masyarakat? Bagi saya, sentuhan tangan Fuad dalam meracik film dokumenter ini telah sedikit banyak memberikan edukasi dan informasi terkait lingkungan di Indonesia yang ‘katanya’ telah merdeka ini untuk lebih mendapat perhatian serius.
Ditanah yang sama ini, lewat beribu pahlawan yang telah berjuang demi tanah air, haruskah mendapati kesenjangan yang begitu mirisnya? Sebagai film pembuka, Living in Rob memang pantas mendapat sanjungan dan apresiasi dari seluruh lapisan masyarakat. Untuk para sineas, jejak saudara Fuad dalam membingkai sebuah realita sosial Indonesia patut dicontoh.
Leave A Reply Now