Barangkali dongeng tentang seorang perempuan miskin yang akhirnya
menikah dengan pria kaya pernah menjadi fantasi sebagian besar perempuan. Saya
akui, saya salah satunya. Siapa yang tidak mau hidup dilayani di rumah yang
sangat mewah dan besar. Dongeng semacam Cinderella, Putri Tidur, Putri Salju,
atau Danau Angsa pasti tidak asing di telinga kita, terutama bagi perempuan.
Menggunakan gaun indah, rambut disanggul sedemikian rupa, lalu berdansa dengan
sang pria kaya dan tampan dengan lantunan lagu waltz, lalu akhirnya menikah.
Little Women karya sutradara perempuan Greta Gerwig memasukkan visual- visual yang serupa; gaun indah, rambut indah yang disanggul, pesta dansa, bahkan pria kaya. Namun, jika berekspektasi pada pernikahan di akhir cerita, bisa jadi sebuah kesalahan yang cukup besar. Jika berekspektasi pada perempuan pasif yang jika disiksa hanya diam saja lalu menangis di kamarnya, dan di akhir cerita ada pria kaya yang menikahinya dengan tujuan bisa mengubah hidupnya yang kelam itu, sebuah kesalahan yang jauh lebih besar.
Little
Women diadaptasi dari novel karya Louisa May Alcott
yang berjudul sama. Tahun 1994 film ini sudah diadaptasi menjadi film oleh
sutradara perempuan asal Australia, Gillian Armtrong. Dalam versi 1994, Little
Women dibintangi oleh Winona Ryder, Kirsten Dunst, dan Christian Bale.
Dalam versi 2019, cerita dituntun oleh
karakter Josephine “Jo” March (Saoirse Ronan), seorang penulis lepas yang
merantau ke kota New York. Perjalanan penitian karirnya, tak lepas dari
kontribusi saudari- saudarinya, Meg (Emma Watson), Amy (Florence Pugh), dan
Beth (Eliza Scanlen), ibunya, Mary (Laura Dern), dan teman sepermainannya
Laurie (Timothee Chalamet). Keempat bersaudari tersebut memiliki tekad, jalan
hidup, dan pilihannya masing- masing.
Kita akan diperlihatkan kenangan apa saja yang
dimiliki Jo March dengan keluarganya,terutama apapun yang berhubungan
dengan saudari- saudarinya. Karenanya,
kita akan menikmati masa perjuangan Jo meniti karir di kota, dan ketika March
Bersaudari masih remaja. Keduanya digabungkan dalam menjadi satu di film ini.
Jangan berekspektasi pada jawaban yang akan cepat- cepat dijawab. Nikmati saja
perjalanan mereka.
Selain perjalanan mereka yang penuh dengan
permasalahan batin, nikmati juga sentuhan komedi yang ada. Misalkan saat Amy
menangis karena tangannya terluka setelah dihukum gurunya, atau saat Jo menyesal
karena memotong rambutnya. Penggabungan dua waktu yang berbeda, serta sentuhan
komedi yang apik membuat film ini menjadi watchable.
Sehingga, jika boleh dibilang, film ini bisa dikategorikan sebagai popcorn movie.
Senang sekali melihat aktor dan aktris yang berkolaborasi di Little Women. Bagi saya, it’s huge. Aktor dan aktris pendatang baru yang tahun ini bisa menjadi wajah baru Hollywood seperti Saoirse Ronan (Brooklyn, Lady Bird), Timothee Chalamet (Call Me By Your Name, Lady Bird, Beautiful Boy), dan Florence Pugh (Midsommar). Penampilan mereka diimbangi dengan aktor dan aktris top yang sudah lama menghiasi layar bioskop dunia, seperti Emma Watson (Harry Potter, Beauty and The Beast), Laura Dern (The Fault in Our Stars, Marriage Story), dan Meryl Streep (The Devil Wears Prada, The Post). Senang melihat Saoirse Ronan dan Timothee Chalamet kembali lagi setelah Lady Bird (kabarnya mereka akan kembali lagi di proyek baru Wes Anderson). Senang juga melihat Bob Odenkirk kembali dan berkolaborasi dengan Laura Dern, yang sekitar tujuh tahun yang lalu berkolaborasi dengan ayah Laura, Bruce Dern, di Nebraska.
Perempuan, Pilihan, dan Toleransi
Film ini mengingatkan saya pada satu kalimat
yang diungkapkan penulis sekaligus aktivis feminis Betty Friedan dalam bukunya The Feminine Mystique. Ia mengatakan,
“kami tidak bisa lagi mengabaikan suara para perempuan yang mengatakan; ‘aku
ingin sesuatu yang lebih dari suami dan anak- anak dan rumah,’”. Menurut
penulis bell hooks dalam bukunya Feminist
Theory : From Margin to Center, kata ‘lebih’ dalam konteks ini berarti
karir.
Dari pernyataan tersebut, wanita berhak untuk mendapatkan pekerjaan yang ia impikan. Tidak terbelenggu dalam domestic work of women yang selama ini mengakar kuat pada kehidupan perempuan untuk mengurusi segala urusan rumah tangga. Perspektif ini direpresentasikan dengan kuat di film ini, terutama pada karakter Jo dan Amy.
Satu lagi yang sangat perlu untuk diperhatikan, film ini tidak diperuntukkan bagi yang menganggap bahwa kodrat wanita hanya mengurus keperluan rumah tangga dan mengurus anak- anak. Film ini juga tidak diperuntukkan bagi kalian yang menganggap bahwa semua wanita harus mengikuti standar tertentu.
Jo March, penulis lepas cerpen untuk surat kabar yang bingung saat editor mengharuskan memasukkan akhir cerita cerpennya dengan wanita yang menikah atau mati (sumber : compot.slate.com)
Meg March, si penari yang memilih untuk berumahtangga dengan seorang guru, John Brooke (sumber : filmweb.no)
Amy March, sangat beruntung bisa mengasah kemampuan melukisnya di Eropa (sumber : collegefashion.net)
Beth March, si pemalu yang pandai bermain piano (sumber : bfi.org.uk)
Well, memiliki standar terhadap diri sendiri memang harus. Untuk menonton
film ini harus diimbangi dengan pikiran yang terbuka, bahwa setiap orang,
termasuk perempuan, memiliki tekad dan jalan hidupnya masing- masing. Jika anda
misoginis dan seksis, tidak perlu membuang 30 ribu rupiah (atau lebih), jika
nanti anda cuma marah- marah di dalam bioskop dan mengganggu penonton yang
lain.
Disini bukan hanya tentang feminisme yang
dibahas. Bukan hanya tentang perempuan bisa memilih jalan hidup yang mereka
inginkan. Hal itu sudah menjadi sesuatu yang normal dan wajar saja. Karena saat
ini sebagian besar perempuan jelas sudah bisa menentukan nasibnya sendiri. Saya
melihat toleransi adalah hal yang paling menonjol di film ini.
Bagaimana tidak? Stereotip memang terus menyebar. Setiap orang
memiliki dan menjalankan hidup sesuai standar yang dimilikinya. Namun, adakah
perdebatan atau ke-nyinyir-an yang
terjadi di Little Women karena sang adik atau sang kakak menjalankan hidup
berbeda dengan pendapatnya? Kehidupan yang toxic
di kalangan perempuan memang kuat sekali. Apalagi standar yang diciptakan untuk
perempuan selama ini sangat banyak.
Kata- kata seperti ‘perempuan harus bisa melayani suaminya’, ‘perempuan harus bersikap seanggun mungkin’, atau ‘perempuan harus tunduk pada suaminya’, tidak asing di telinga kita. Bahkan mungkin kita dengan dari seseorang di dalam keluarga sendiri. Memang tidak mudah merobohkan dinding stereotip tersebut, namun paling tidak, Little Women bisa menjadi cerminan untuk kita saling bertoleransi. Terutama sesama wanita.
Artikel ini ditulis oleh Amalia Putri Budi Utami
(penulis berstatus sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta 2016 dan merupakan anggota aktif dari AVIKOM)
Leave A Reply Now