Avikom’s Review: Women from Rote Island (2023), “Orang Jahat dan Orang Baik Lahir Setiap Harinya”

“Menakjubkan!”, merupakan kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan “Women from Rote Island“. Berkisah mengenai Martha (Irma Novita Rihi), putri dari Mama Orpa (Linda Adoe) dan Bapak Abraham, yang kedatangannya ditunggu oleh masyarakat Pulau Rote. Sayangnya, tempat yang seharusnya menjadi rumah bagi Martha, seakan menjadi neraka karena tuntutan adat dan serangkaian peristiwa yang harus dihadapi oleh Martha dan keluarganya. Film cerita panjang terbaik Festival Film Indonesia (FFI) 2023 ini memiliki cerita yang cukup kompleks dan mengangkat isu sosial yang penting di masyarakat mengenai kesejahteraan perempuan.

Film dibuka dengan kematian Bapak Abraham, yaitu suami dari Mama Orpa. Kematian sang suami membuatnya harus berjuang sendirian untuk menghidupi dirinya dan kedua putri kesayangannya, Martha dan Bertha. Selain itu, Mama Orpa, Martha, dan Bertha berusaha melawan diskriminasi gender serta stigma masyarakat tentang perempuan dan orang tua tunggal. Konflik yang disajikan begitu terasa serta membuat penonton merasa “kesal” dan ingin membantu Mama Orpa dan keluarga untuk menyelesaikan konflik yang dialami. Tidak hanya itu, menonton film ini menjadikan kita memahami adat istiadat yang masih dijunjung tinggi di Pulau Rote. Dialek dan dialog yang khas dan unik dilontarkan dengan baik oleh para pemain sehingga kita juga merasakan bagaimana berada di tengah-tengah konflik yang bergulir.

Suasana hati dan pikiran penonton tak hanya dibangun melalui dialog, tetapi juga melalui pengambilan gambar yang memanjakan mata. Movement kamera yang mengikuti pergerakan tokoh seakan membawa penonton ikut terlibat sebagai karakter di dalam film dan menjadi saksi perjalanan kisah Mama Orpa, Bertha, Martha, dan seluruh penghuni Pulau Rote. Berbagai hal di film ini juga dekat dengan kebiasaan masyarakat kita, seperti gotong royong, ramah tamah, dan konflik sosial yang sering terjadi. Terutama saat adegan yang menunjukkan betapa sepinya rumah keluarga Mama Orpa setelah Bapak Abraham dikuburkan, yang sebelumnya ramai orang datang ke sana untuk membantu prosesi pemakaman Bapak Abraham. Kesunyian dan kesepian sangat terasa di situ.

Sepanjang durasi 103 menit, penonton dibuat untuk menerka siapa sebenarnya dalang di balik semua konflik ini. Film karya sutradara Jeremias Nyangoen ini membukakan mata kita bahwa konflik sosial yang dianggap sudah selesai oleh sebagian besar masyarakat, ternyata belum tentu membawa keadilan bagi pihak yang terlibat konflik. Kita dapat menyaksikan bagaimana seorang ibu yang menanti kedatangan anaknya, seorang perempuan yang berusaha mempertahankan derajat dan martabatnya, serta bagaimana hubungan darah dapat mengkhianati persaudaraan yang telah dijaga dan dibangun. Menonton ini tandanya kita harus siap merasakan kemarahan Martha dan sadar bahwa “Orang Jahat dan Orang Baik Lahir Setiap Harinya”.

Artikel ini ditulis oleh Helga Miraclle Penta Putsanra, email: helgampp@gmail.com

AVIKOM FILM

AVIKOM FILM

Leave a Reply

Jl. Babarsari, Janti, Caturtunggal, Kec. Depok, Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55281
089517891709

avikom.upnyk@gmail.com