Balut Orientasi Seksual dalam Mitos dan Agama

Spread the love

Monica Vanesa Tedja, seorang sutradara yang lahir di Jakarta pada tahun 1991, merupakan seorang sutradara yang berfokus pada isu mengenai identitas, gender, dan isu-isu minoritas lainnya.

Monica yang notabene merupakan seorang Chindo (Chinese Indonesia) lahir dan besar di Indonesia yang mayoritas beragama muslim. Hal ini semakin mengentalkan pemahamannya mengenai isu minoritas.

Tak bisa dipungkiri bahwa gaung-gaung rasisme terhadap minoritas di Indonesia masih sangat terasa, bahkan hingga saat ini. Isu seperti orientasi seksual, kesetaraan gender, dan feminisme masih menjadi isu yang cukup tajam jika ingin dikulik. 

Film Dear to Me (2020) merupakan tesis film dari Monica saat menjalankan studinya di University Babelsberg Konrad Wolf, Postdam, Germany.  Dear to Me menceritakan seorang pemuda Indonesia berusia 27 tahun bernama Tim yang sedang melakukan liburan bersama kedua orang tuanya di suatu pulau yang jauh dari kota. Di pulau itu ada mitos mengenai rusa  yang diyakini oleh warga setempat. 

Dikisahkan dalam mitologi rusa tersebut, bahwasanya pada ribuan tahun yang lalu, ada sepasang kekasih yang saling mencintai, singkat cerita rusa tersebut disimbolkan sebagai reinkarnasi dari laki-laki yang memegang teguh cinta sejatinya, sampai akhir hayatnya.  Kisah turun temurun ini menjadi mitos di masyarakat. 

“Siapapun yang melihat rusa, maka ia akan menemukan belahan jiwanya.”, kata Mang Ucup.

Film ini dibalut dengan sangat anggun dan apik. Monica membalut isu mengenai krisis identitas, orientasi seksual, dan agama yang dijadikan satu-kesatuan sehingga dapat menguras batin. Melalui film ini kita dapat merasakan pergolakan hati yang dialami Tim (Jourdy Pranata) sebagai seorang pemuda yang memiliki orientasi seksual yang berbeda dari kebanyakan orang. 

Tim yang merupakan seorang fotografer menjalani kisah asmara dengan James (Jerome Kurnia). Dalam film ini tidak terlalu dijelaskan bagaimana karakter si James ini, mengenai siapa dirinya, pekerjaannya dan lain sebagainya. Hal ini cukup menjadi tanda tanya bagi saya. Rasanya akan lebih dalam ketika karakter James lebih di kupas lagi. 

Namun, hal ini tidak mengurangi estetika dari film Dear to Me. Kehadiran James yang ditampilkan samar-samar malah membuat kisah antara Tim dan James semakin misterius, hal ini seolah sengaja dibuat guna merepresentasikan mitologi rusa yang dibawa oleh film ini.

Kemesraan antara Tim dan James mungkin tak banyak disuguhkan, tapi berkat akting dari Jordy dan Jerome, luapan asmara antara kedua karakter ini menjadi sangat intim. Tak ada akting yang terasa dipaksakan atau dilebih-lebihkan, semua terkesan sangat natural. Terlihat bagaimana mereka sebagai sepasang muda-mudi yang saling membalut kain-kain asmara, sama-sama saling mengejar dan tak ada yang ketinggalan.

Pergolakan mulai terasa saat Johan dan Liana yang diperankan oleh Willem Bevers dan Wani Siregar muncul sebagai orang tua yang sangat taat terhadap agama. Orientasi seksual Tim dianggap sebagai penyelewengan atas agama yang dianutnya, hal tabu, dan harus diluruskan. 

Sementara Tim masih belum dapat melupakan hubungannya dengan James, ia masih sering memimpikan dirinya, hangat sentuhannya masih sangat terasa. Bagi Tim, James merupakan belahan jiwanya, namun kehadirannya ditolak oleh orang tua Tim yang konservatif.

Terlepas dari cerita yang disuguhkan, film ini menyimpan banyak semiotika yang rasanya sangat patut untuk didiskusikan dan tentunya film ini menjadi bahan empuk bagi para penikmat film untuk mengeluarkan pikiran-pikiran liarnya.

Maka, izinkan saya sebagai penikmat film untuk sedikit menyumbangkan pikiran-pikiran yang dihasilkan setelah menonton film ini. Pertama adalah mengenai laut, mungkin karena film ini berlatar di sebuah pulau, jadi ada banyak shot mengenai laut di film ini. Dari sekian banyak footage lautan dalam film Dear to Me, saya dapat memaknai jika lautan menjadi symbol atas kebebasan dan keterbatasan sekaligus.  Bebas dalam artian orientasi seksual seharunya menjadi hal private yang tidak bisa diganggu gugat atas kehendak orang lain. Tapi kemudian lautan juga bisa berarti keterbatasan, laut bisa juga merupakan pengahalang dalam mencapi tujuan. Ada dinding-dinding yang tak bisa kita gapai, contohnya dalam film ini adalah dinding agama yang sukar dirobohkan.

Kedua adalah tentang pemilihan judul “Dear To me” yang artinya kurang lebih ungkapan saying, namun Dear to Me juga dapat dibaca “Deer to Me,” ini merupakan permainan kata, jika diinterpretasikan Deer to Me menjadi berarti “Rusa bagiku.” Seperti yang telah kita ketahui Bersama rusa dalam film ini disimbolkan sebagai belahan jiwa. 

“Aku melihat kamu, ngebelakangin aku.”

“Sendirian di tengah laut.”

“Melihat langit didepan kamu.”

“Sampai akhirnya kamu hilang gitu aja.”

Artikel ini ditulis oleh Giga Baskoro. Penulis merupakan mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta 2018 dan anggota aktif Avikom.

Leave a Reply