Kisah Zombie dengan Sentuhan Kultur Lokal

Spread the love

Penemuan jenis virus corona baru yang dikabarkan mematikan pada awal masa pandemic saat itu, tentu saja memunculkan berbagai spekulasi menarik nan unik dari masyarakat. Virus yang menular dengan cepat, membuat penderitanya akan meninggal, sulit untuk disembuhkan, tentu membuat ngeri penduduk negeri kala itu. Berbagai terpaan media dan berita hoaks juga turut membumbui kekhawatiran dan memunculkan beragam konspirasi. Tak jarang ketakutan tersebut menciptakan imajinasi liar sebagian orang dimana virus tersebut akan membuat penderitanya menjadi zombie.

Spekulasi dan imajinasi inilah yang kemudian dikembangkan oleh Sidharta Tata dan kawan-kawan sineas menjadi sebuah alur kisah dalam film terbarunya yang berjudul Hitam. Bersama Ifa Isfansyah sebagai produser, film bergenre horror thriller ini digarap menjadi sebuah mini series empat episode dengan menggabungkan fenomena zombie dan kearifan lokal. Diperankan oleh Donny Damara dan Sara Fajila, film Hitam ditayangkan perdana pada 19 Juni lalu melalui platform streaming online KlikFilm.

Film ini mengusung sebuah kisah yang berfokus pada kehidupan seorang Kepala Desa bernama Dibyo (Donny Damara) atas kepulangan anak perempuan semata wayangnya, Tika (Sara Fajila) dari London. Diawali dengan kasus hilangnya ayah Retno (Eka Nusa Pertiwi) yakni Pak Rahmat, kemisteriusan desa tersebut dibawa semakin mendalam.

Misteri hilangnya Pak Rahmat tersebut pun kemudian semakin diperumit dengan penemuan bangkai ternak milik warga. Penemuan ini semakin mendukung dugaan Dibyo bahwa ada hewan buas di desa mereka. Oleh karena itu, warga desa atas arahan Dibyo pun membuat perangkap yang diletakkan di beberapa titik, salah satunya di belakang rumah milik Dibyo sendiri.

Hingga suatu ketika, perangkap yang ada dirumah Dibyo terjatuh dan menangkap sesuatu. Lonceng tanda berhasilnya jebakan tersebut membuat warga berbondong-bondong untuk mengeceknya. Akan tetapi, ternyata jebakan tersebut sudah disadari oleh Dibyo sendiri. Alih-alih memberitahukan yang sebenarnya, Dibyo justru menyembunyikan sesuatu atas apa yang ia temukan dalam perangkap tersebut.

Hari demi hari berlalu, dengan Dibyo yang semakin menutup rapat rahasianya. Permasalahan lain pun muncul. Mulai dari Paijo dan Seto yang tiba-tiba menghilang, hingga temuan ternak milik warga yang ternyata atas hasil penyelidikan seorang polisi bernama Gilang (Aksara Dena) bukan mati karna serangan hewan buas, melainkan sengaja disembelih oleh seseorang.

Retno yang dipanas-panasi oleh Pak Bambang (Seteng A. Yuniawan) semakin curiga dengan Dibyo yang tidak segera melaporkan kasus hilangnya sang ayah dan lainnya ke pihak kepolisian. Dugaan atas terjadinya rentetan peristiwa yang disebabkan oleh hewan buas menjadi hal yang tidak masuk akal bagi warga. Kemudian muncullah desas-desus dan kecurigaan kepada Tika karena musibah datang setelah kepulangannya dari London.

Mengangkat isu mengenai kemunculan virus yang terjadi akhir-akhir ini, film Hitam memberikan wajah baru bagi film Indonesia dengan menggunakan zombie sebagai bagian dalam cerita. Hal ini tentu saja menarik, mengingat film horror thriller Indonesia jarang sekali yang memunculkan zombie dalam filmnya. Sosok horror dan menyeramkan seringkali penonton dapatkan melalui penggambaran hantu atau makhluk halus yang menjadi kepercayaan orang Indonesia.

Walaupun tanpa menampilkan sosok hantu dalam film horror thriller ini, sutradara berhasil menciptakan suasana ngeri, seram, mencekam dan menegangkan dalam setiap scene-nya. Pemilihan tone warna yang cenderung dingin dan suram, juga penambahan backsound yang mendukung membuat penonton semakin deg-degan pada setiap potongan adegan. Selain itu, detail artistik seperti daging mentah dari potongan tangan manusia yang dilumuri darah segar, serta make up zombie yang nampak real semakin memberikan kesan menjijikkan pada film ini.

Akan tetapi, sosok nyata dari zombie tersebut ternyata bukan menjadi fokus utama dalam cerita. Tika yang berubah menjadi zombie malah terkesan menjadi pendukung dalam film Hitam. Sidharta lebih membahas hubungan atau relasi sosial masyarakat desa dengan kultur dan adat yang melekat didalamnya.

Dialog antar tokoh yang didominasi dengan penggunaan Bahasa Jawa, semakin menggambarkan masyarakat perdesaan dengan latar belakang budaya jawanya. Penggambaran tersebut dibarengi pula dengan potret warga perdesaan pada persoalan kekuasaannya, persaingan antar individu, budaya gotong royong, kepercayaan spiritual dan supranatural, hingga persebaran desas-desus yang merajalela.

Unsur pemeran dalam film ini tentunya mendukung keberhasilan sutradara untuk menyalurkan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton. Bahkan, pemilihan pemeran pendukung yang tidak main-main pun nyatanya mampu menghidupkan hubungan antar warga desa. Seperti banyolan sekelompok pemuda desa yang sedikit memberikan unsur komedi hingga permainan emosi warga saat ingin menghabisi Dibyo membuat suasana semakin tegang.

Terlebih Sara Fajila yang bisa dibilang baru dalam dunia peran, ternyata mampu mengimbangi kemampuan peran Donny Damara sebagai anak dan ayah. Sara Fajila mampu memerankan emosi kompleks yang tengah dihadapi Tika. Sedangkan akting Donny Damara memang tidak bisa diragukan lagi. Sudah fasih memerankan berbagai tokoh, artis ibukota ini juga nyatanya bisa mengucapkan dialog Bahasa Jawa dengan sedikit berlogat atau ‘medok’.

Film zombie yang dibarengi dengan kultur lokal memang menjadi hal yang menarik dan seru untuk ditonton. Akan tetapi, Hitam masih menyisakan ending yang menggantung. Sumber virus yang menyebabkan Tika menjadi zombie juga masih belum jelas asal usulnya. Bisa jadi, Sidharta Tata memang sengaja membuat cerita yang mengambang untuk melanjutkan kisah zombie ini dalam sekuel baru.

Artikel ini ditulis oleh Fatika Febrianti. Penulis merupakan mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta 2018 dan anggota aktif Avikom.

Leave a Reply