Belajar Memaknai Kembali Arti Keluarga Dari Ali dan Ratu Ratu Queens

Spread the love

Merindukan seseorang yang disayang hingga rela untuk menghampirinya sampai ke luar negeri. Akan tetapi, saat menemui orang tersebut, kamu tidak dianggap dan malah disuruh kembali ke tanah air.

Itulah yang dirasakan oleh Ali, remaja asal Indonesia yang pergi ke New York, USA untuk menemui ibunya. Setelah kepergian ayahnya, Ali (Iqbaal Ramadhan) pun memutuskan untuk ke New York sendirian dan memulai petualangannya mencari Mia (Marissa Anita), ibunya yang telah meninggalkan Ali saat berusia 5 tahun untuk mengejar mimpinya sebagai penyanyi. Tak disangka, saat sampai disana banyak hal-hal baru yang ia temukan.

Ali memulai petualangannya dengan menginjakkan kakinya di sebuah kota padat penduduk di Amerika Serikat bernama Queens. Di kota tersebut, ia pun bertemu dengan penghuni salah satu apartemen yang sempat ditinggali oleh ibunya. Mereka adalah Party (Nirina Zubir), Biyah (Asri Welas), Cinta (Happy Salma) dan Ance (Tika Pangabean). Selain itu, ada juga Eva (Aurora Ribero), anak dari Ance yang sesekali mengunjungi apartemen mereka.

Bersama para Ratu-Ratu Queens ini, Ali pun menjelajahi kota Queens, menelusuri ramainya Time Square, hingga berakhir di kawasan elite Fort Greene yang merupakan wilayah tempat tinggal Mia yang baru. Walaupun ia mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari mamanya, Ali justru memperoleh inspirasi dan semangat dari orang-orang yang ia temui di New York. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk terus melanjutkan mimpi dengan menempuh jalannya sendiri.

Film yang diproduksi oleh Palari Film ini disutradarai oleh Lucky Kuswandi, dan dibantu Gina S. Noer dan Muhammad Zaidy dalam penulisan cerita. Ali dan Ratu-Ratu Queens berdurasi 1 jam 40 menit dan dapat disaksikan secara streaming melalui Netflix. Dengan latar lokasi di luar negeri, film ini mengambil fokus utama mengenai hubungan kekeluargaan didalamnya.

Ali dan Ratu-Ratu Queens menjadi film keluarga yang mengharukan akibat rumitnya hubungan Ali dengan ibunya. Walaupun begitu, film ini menjadi menarik dengan adanya sentuhan komedi yang diperlihatkan dari kekocakan keempat wanita penghuni Queens dan sedikit kisah asmara dari tokoh utama yakni Ali dengan Eva. Selain itu, berbeda dengan film berlatar luar negeri yang lebih menonjolkan pemandangannya, Ali dan Ratu-Ratu Queens justru lebih memfokuskan pada isu hingga permasalahan yang dihadapi setiap tokoh.

Film ini berhasil menyampaikan kembali eksistensi dari keluarga, dimana tidak selamanya keluarga itu terbentuk atas dasar hubungan darah, melainkan kekerabatan yang terbangun atas dasar kesamaan motif dan pertemanan. Dengan demikian, Ali dan Ratu-Ratu Queens menjadi angin segar bagi perfilman Indonesia yang seringkali menceritakan keluarga sebatas hubungan antar ayah, ibu, dan anak.

ALI & RATU RATU QUEENS (L to R) IQBAAL RAMADHAN as ALI in ALI & RATU RATU QUEENS Cr. RADITYA BRAMANTYA/NETFLIX © 2021

Selain kekeluargaan yang ditonjolkan, lokasi yang jauh berada di luar negeri juga memiliki urgensi tersendiri. Latar luar negeri ini menjadi langkah dalam membangun relasi tokoh yang sama-sama menjadi imigran dan memiliki tujuan untuk bertahan hidup jauh dari tanah air. Secara tidak langsung, Queens menjadi awal mula pengembangan karakter dalam pembahasan relasi kekeluargaan yang terbentuk atas dasar nasionalisme jarak jauh ini.

Tak hanya itu pula, film ini juga diimbangi dengan isu perempuan. Dengan menceritakan usaha Mia yang nekat pergi ke New York untuk menjadi penyanyi, menjadi tanda bahwa sah-sah saja bagi perempuan untuk mengejar mimpi, walaupun banyak faktor yang menentangnya.

Pada akhirnya, Queens menciptakan keberjarakan, keterasingan, kekerabatan dan berakhir pada penerimaan si tokoh. Keberjarakan yang menimbulkan kerinduan si anak kepada ibunya, keterasingan yang menciptakan kerumitan hubungan antar ibu dan anak, dan kekerabatan yang berhasil memberikan semangat untuk terus bangkit mengejar mimpi. Penerimaan Ali yang tidak diakui oleh mamanya pun membuat dirinya berani mencari jalan lain untuk mencari rumah, keluarga dan jalan untuk menjadi dirinya sendiri di New York, AS.

“Di New York banyak plang satu arah, tapi juga sediain banyak jalan untuk jadi diri sendiri.” –Ali

Artikel ini ditulis oleh Fatika Febrianti. Penulis merupakan mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta 2018 dan anggota aktif Avikom.

Leave a Reply