“NYENGKUYUNG” dari Ravacana, Membawa Kita Kembali ke Desa

Spread the love

Belum lama ini, Ravacana Films membuat sebuah karya film pendek baru yang berjudul “Nyengkuyung”. Produksi film ini merupakan kerjasama Ravacana Films bersama Netflix Indonesia. Film ini mengambil sebuah fenomena yang sangat dekat dengan keseharian masyarakat. Pak Surat, salah satu tokoh yang ada di film ini adalah seorang pensiunan dan hari-harinya diisi dengan kesibukan menjelajah androidnya.

Ravacana Films على تويتر: "Mari merayakan Bulan Film Nasional dengan  Nyengkuyung! Nyengkuyung (2021), sebuah film pendek persembahan Ravacana  Films bersama @netflixid sudah dapat ditonton dengan gratis dan legal di  kanal youtube Netflix

Ravacana Films memang aktif dalam pembuatan film pendek maupun video iklan. Karya-karya Ravacana banyak yang sudah memperoleh penghargaan baik di tingkat Nasional maupun Internasional. Karya-karya Ravacana Films dapat ditonton di channel youtubenya, yaitu Ravacana Films. Tilik (2018), adalah salah satu karya Ravacana yang cukup viral beberapa waktu yang lalu. Film yang hangat dan sangat dekat dengan masyarakat adalah salah satu ciri dari film produksi Ravacana khususnya sang sutradara, Wahyu Agung Prasetyo. Bersama dengan Elena Rosmeisara, Ia sudah banyak membuat karya film pendek yang menghibur masyarakat.

Nyengkuyung dalam bahasa Jawa dapat diartikan gotong royong atau membangun dengan bersama-sama. Gotong royong memang identik dengan pedesaan. Hingga saat ini, budaya gotong royong masih bertahan di tengah perkembangan zaman. Budaya ini, adalah salah satu yang coba ditonjolkan dalam film Nyengkuyung. Peran pemuda desa memang diperlukan untuk mendukung perkembangan desa. Kebanyakan pemuda desa memang memilih untuk pergi ke kota entah untuk tujuan pendidikan atau pekerjaan. Tersisa pemuda desa yang coba bertahan dan mengembangkan desanya. Nyengkuyung coba mengemas kegiatan positif yang seharusnya dilakukan oleh pemuda desa, bahkan ditengah keterbatasan. “Pemuda ki ora mung kluntrak-kluntruk tura-turu neng kasur”, kira-kira seperti itulah ungkapannya.

Tapi dibalik itu, ada fenomena yang cukup menarik yang disajikan. Orang tua yang mencoba mengikuti perkembangan zaman. Perkembangan zaman yang cukup cepat menuntut setiap orang untuk “mau tidak mau” harus mengikutinya. Pak Surat contohnya, Ia menjadi orang yang sangat penasaran dengan perkembangan handphone dan internet. Fenomena ini mungkin memang dirasakan oleh beberapa anak yang mencoba mengajari orang tuanya menggunakan laptop maupun smartphone. Tidak jarang hal ini bisa menjadi lelucon karena keluguan orang tua dalam menggunakannya. Hal ini dikemas dengan sangat baik dalam film Nyengkuyung. Tindakan yang dilakukan pak Surat menjadi lelucon oleh pemuda desa dan menguatkan unsur komedi di dalam film ini.

Wahyu Agung dan Vanis, penulis naskah film ini memang sangat cermat dalam membuat plot cerita Nyengkuyung. Dialog antar tokoh terasa sangat nyata tanpa ada kesan dibuat-buat. Unsur komedinya terkesan tidak berlebihan dan tidak juga kurang. Terlepas dari naskah atau improvisasi pemerannya, film ini tentunya sangat menarik untuk ditonton. Adegan tiap adegan terasa sangat hangat, sehingga ketika menontonnya kita tidak sadar sudah menghabiskan waktu 27 menit 30 detik. Film ini membuat kesan kita kembali ke desa.

Selain fenomena budaya, film ini sedikit menyentil tentang kekuasaan. Pak Surat adalah mantan ketua RT yang sering membicarakan ketua RT setelah dirinya. Terdapat scene dimana pak Surat memprotes mengenai penggunaan fasilitas di desanya. Hal ini sedikit mengingatkan kita bahwa di negara ini orang yang memegang kekuasaan bisa sesukanya menggunakan fasilitas. Akan tetapi, hal ini ditepis di dalam film Nyengkuyung dimana ketua RT yang sedang menjabat menggunakan fasilitas desa untuk hal yang positif.

Dibalik film Nyengkuyung yang sangat menghibur, tentunya masih terdapat beberapa kekurangan. Terdapat satu scene dalam film ini yang terasa tidak tepat dengan apa yang biasanya terjadi. Scene ketika pemuda desa mengambil “jimpitan” di rumah pak Man terkesan baru pertama kali kerumah tersebut. Jimpitan merupakan uang kecil yang ditaruh di depan rumah dan diambil oleh warga yang sedang melakukan ronda. Budaya jimpitan tidak terdapat di semua desa, kebanyakan terdapat di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Secara keseluruhan, film Nyengkuyung memang menarik, lucu dan pastinya dapat menghibur seluruh lapisan masyarakat. Film ini sangat cocok untuk ditonton bersama keluarga ataupun teman sebaya. Film Nyengkuyung mengembalikan ingatan kita kepada arti kehangatan sesungguhnya dalam kehidupan bermasyarakat.

Ditulis oleh Christian Tulus Manalu.

Diedit oleh Maria Uri Kristina.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *