Putaran Waktu “Hiruk-Pikuk Si Al-kisah”

Spread the love

Film garapan Yosep Anggi Noen selalu sukses membuat penonton takjub akan jalan ceritanya. Pada tahun 2016 lalu, filmnya yang berjudul “Istirahatlah Kata-Kata” ramai diperbincangkan masyarakat. Film tersebut adalah film pertama yang mengangkat kisah Wiji Thukul, aktivis yang menghilang di era tahun 1998. Tiga tahun setelah film tersebut, Anggi Noen kembali hadir dengan film panjang berjudul “The Science of Fictions (Hiruk Pikuk Si Al-Kisah)”. 

Poster The Science of Fiction

Film ini bercerita tentang Siman (diperankan oleh Gunawan Maryanto), seorang pria pendiam yang tidak sengaja menyaksikan kebohongan mengenai pendaratan di Bulan oleh para kru asing pada tahun 1960. Tindakannya itu membuat Siman ditangkap oleh penjaga, lalu dipotong lidahnya agar tidak menyebarluaskan rekayasa yang telah dibuat mengenai pendaratan tersebut. Siman yang berusaha menunjukan hal tersebut adalah sebuah konspirasi, mulai menjalani hidupnya dengan slow-motion layaknya seorang astronot yang berada diluar angkasa. Namun, orang-orang menganggap Siman tidak waras. Sebuah rangkaian peristiwa yang menunjukkan bagaimana sebuah kebenaran dibungkam.

Pada beberapa bagian awal film ini sedikit mengingatkan kita pada sejarah kelam Indonesia di tahun 1960-1965. Walaupun tidak mendapatkan porsi yang banyak, adanya peristiwa ini terasa nyata dan menyatu dengan film. Penangkapan orang terduga PKI menjadi peristiwa yang diambil dan menjadi menarik karena terdapat bagian yang menunjukkan orang desa bekerjasama dengan aparat yang melakukan penjemputan. Peristiwa ini menjadi sebuah cerita yang kelam dan masih menjadi perbincangan hingga saat ini.

Film yang diproduseri Arya Sweta, Edwin Nazir, Evina Bhara danYosep Anggi Noen sendiri mulai dikembangkan sejak tahun 2013 dan dipresentasikan pada saat Asian Project Market tahun 2014, Produire Au Sud tahun 2016, Venice GAP Financing – Venice Film Festival tahun 2017. Gunawan Maryanto yang menjadi pemeran utama dalam film ini juga mengaku terlebih dahulu mendapat ajakan untuk memerankan film ini sebelum film Istirahatlah Kata-Kata. Hal ini Ia sampaikan dalam sesi tanya jawab setelah pemutaran film The Science Of Fictions (Hiruk-Pikuk Si-Alkisah) di Empire XXI Yogyakarta.

Karakter Siman

Berbicara mengenai pemeran, Gunawan Maryanto cukup berhasil dalam memerankan karakter Siman. Tidak mudah memerankan seseorang yang bergerak lamban baik melalui Gerakan badan ataupun ekspresinya. Siman akan bergerak cepat ketika bersinggungan dengan hal-hal yang sifatnya duniawi seperti hasrat seksual dan uang. Hal ini memperlihatkan bahwa Siman juga manusia normal yang tergoda akan hal-hal duniawi. Anggi Noen membentuk karakter Siman menjadi sangat kuat meskipun hanya melalui gerakan tanpa banyak bermain kata-kata atau dialog. Akan tetapi, terdapat beberapa karakter yang pada akhirnya kurang terlihat atau hanya sebagai pelengkap. Sebut saja Marissa Anita sebagai penjaga warung yang hanya mempertanyakan keuangan Siman.

The Science of Fictions diceritakan ke dalam dua rentang waktu yaitu masa lampau dan masa modern atau era saat ini. Perbedaan yang paling mencolok adalah pada warna yang digunakan. Penggunaan warna hitam putih untuk menunjukkan masa lampau terasa sangat natural dalam memperlihatkan era tersebut. Yang cukup unik dalam film ini yaitu kemunculan kembali tokoh dari masa lampau di masa modern. Jika dilihat sekilas, tokoh yang muncul tidak banyak mengalami perubahan fisik. Perubahan hanya terjadi pada pekerjaan tokoh.

Gunawan Maryanto sendiri menjelaskan bahwa karakter Siman seperti berhenti pada satu titik waktu dan tidak mengalami perubahan. Tokoh-tokoh yang menjadi pemeran dalam rekayasa pendaratan di bulan pada masa lampau juga kembali hadir di era modern. Kemunculannya yang hadir di tengah banyak kru menimbulkan persepsi yang berkuasa di masa lalu masih berkuasa di saat ini. Setiap karakter yang dibentuk Anggi Noen dalam film ini memang memiliki tujuan masing-masing meskipun terkadang tidak mendapatkan porsi yang banyak.

 Lukman Sardi yang muncul di era modern dalam tokoh yang diceritakan baru saja pulang dari luar negeri. Karakter ini menunjukkan bahwa biasanya orang yang baru saja pulang dari tanah rantau khususnya dari luar negeri akan banyak berbicara. Hal yang cukup sederhana akan tetapi memang nyata terjadi. Selain itu, kemunculan orang yang melakukan fogging di tempat tinggal Siman juga cukup mengejutkan. Kemunculan tokoh tersebut secara tidak langsung memberikan penggambaran bahwa di era saat ini semuanya serba mengeluarkan uang, termasuk melakukan fogging di tempat tinggal Siman.

Hiruk Pikuk si Al-Kisah banyak menampilkan simbol dalam menyampaikan pesan kepada penontonnya. Yang paling menarik adalah bagaimana tempat tinggal Siman yang menyerupai roket. Bukan tanpa tujuan, bentuk tempat tinggal tersebut juga merupakan bentuk penyampaian pesan dari Siman. Selain itu, di sepanjang film banyak terlihat televisi dan handphone bermunculan. Sejauh ini, televisi merupakan media satu arah dan sering digunakan sebagai media propaganda. Kemunculan handphone dalam film ini menjadi pertanda bahwa di era saat ini penyebaran informasi sangat cepat sehingga sulit membedakan yang benar atau salah. Adegan terakhir di film ini juga menggunakan media handphone dan menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kebenarannya sendiri-sendiri. Munculnya kaleng atau kotak roti Khong Guan dalam film ini juga bukan tanpa alasan. Kotak tersebut menjadi simbol kekayaan dimana pada era tersebut makanan ini merupakan makanan yang cukup mewah. Hal ini sedikit menyentil mengenai Kapitalisme.

Pemilihan musik latar atau lagu didalam film juga menjadi penting. Dalam film ini, pemilihan lagu milik Libertaria – Orang Miskin Dilarang Mabu kterasa sangat tepat. Lirik yang terdapat dalam lagu khususnya di bagian akhir memiliki makna yang hampir mirip dengan film ini. Kemunculan lagu di tengah film juga memberikan warna lain dan sangat mempengaruhi perasaan ketika menontonnya. Kehadiran film “The Science Of Fictions” di era saat ini terasa tepat. Kebenaran di masa kini menjadi sangat subjektif. Oleh karena itu, film ini layak dimasukkan dalam daftar film yang harus ditonton karena menghadirkan warna baru dalam dunia perfilman Indonesia.

Artikel ini ditulis oleh Inge Maharani (Avikom 2019) dan diedit oleh Maria Uri Kristina (Avikom 2017).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *