Happy Mother’s Day! (Between a Mother and a Director)

Spread the love

Film merupakan salah satu media untuk berpendapat, mengekspresikan diri, serta menyebarkan informasi kepada khalayak. Beberapa berpendapat, mereka yang berjiwa besar dan pantang menyerah akan bertahan di dunia perfilman. Rupanya, keempat sutradara perempuan ini bisa membuktikan bahwa mereka bisa berkarya sekaligus menjadi ibu yang luar biasa.

  • Nia Dinata

Perempuan berumur 50 tahun ini sudah mengepakkan sayapnya di dunia perfilman sejak awal tahun 2000an. Nia sendiri merupakan lulusan dari Sekolah Film Program NYU Tisch School of Art, Amerika Serikat(1993). Berawal dari ketertarikannya di dunia perfilman hingga ikut andil dalam pembuatan video klip dan iklan, akhirnya Nia mendirikan perusahaan film independen miliknya sendiri yaitu Kalyana Shira Film. Nia memulai debut sebagai sutradara pada film Ca Bau Kan (2002). Film pertamanya yang diadaptasi dari novel karya Remy Sylado ini menuai berbagai penghargaan internasional. Lalu, Nia melanjutkan karyanya di bidang film dengan menyutradarai film Arisan! (2004), film yang sangat sukses pada zamannya ini sukses menyabet penghargaan di Festival Film Indonesia. Tak hanya pandai dalam mengolah cerita sebagai sutradara, dirinya juga aktif di dunia perfilman sebagai seorang produser. Film pertama yang ia produseri adalah filmnya sendiri yaitu Cha Bau Khan (2002). Sampai saat ini ia masih aktif menyutradarai dan memproduseri beberapa film disamping kesibukannya untuk menjadi ibu untuk Ioannis dan Gibra. Tercatat, film terakhir yang ia produseri adalah Tanah Mama pada tahun 2015.

  • Djenar Maesa Ayu

Perempuan yang lahir pada tanggal 14 Januari 1973, dikenal sebagai seorang penulis, sutradara dan aktris. Djenar mulai aktif di dunia perfilman sejak tahun 2005 hingga sekarang. Bermula dalam bidang peran, Djenar mulai merambah dunia balik layar di film pertamanya berjudul “Mereka Bilang, Saya Monyet!” (2007) sebagai sutradara, produser, penata skrip dan penulis cerita. Film pertama yang digarap olehnya berhasil membawa beberapa penghargaan dalam Festival Film Indonesia 2009 di antaranya; Piala Citra untuk Sutradara Terbaik, Piala Citra untuk Skenario Adaptasi Terbaik, Penghargaan Khusus Dewan Juri Film Cerita untuk Sutradara Terbaik. Hingga saat ini Djenar masih aktif di depan maupun di balik layar dunia perfilman meskipun diselingi dengan kesibukannya sebagai seorang ibu dari dua anak, Banyu Bening dan Btari Maharani.

  • Upi Avianto

Upi Avianto, nama yang tak lagi asing di dunia perfilman Indonesia. Upi merupakan salah satu Sutradara perempuan yang namanya melejit berkat karya-karyanya yang laris di pasaran. Ibu dengan satu anak ini lahir pada 21 Juli 1972, ia sudah berkarya di dunia perfilman sejak 16 tahun yang lalu. Pengalaman dan karyanya tak perlu diragukan lagi. Diawali dengan debut pertamanya sebagai penulis film Tusuk Jelangkung (2003) akhirnya Upi merambah menjadi sutradara pada film pertamanya, 30 Hari Mencari Cinta. Setelah itu hampir setiap tahun Upi membuat karya-karya yang cemerlang dan terkenal seperti film Radit dan Jani (2008), My Stupid Boss (2016), Sweet 20 (2017), My Stupid Boss 2 (2019) dan masih banyak yang lainnya. Upi adalah salah satu bukti, menjadi seorang perempuan dan seorang ibu tidak menghentikan langkahnya untuk terus berkarya.

  • Mouly Surya

Siapa yang tidak tau film Marlina, si Pembunuh dalam Empat Babak? Rupanya banyak dari pembaca yang sudah mengetahuinya. Film yang mewakili Indonesia dalam Piala Oscar ini merupakan karya sutradara Mouly Surya. Dalam filmnya yang satu ini Mouly sangat menekankan kesan Feminisme, terlihat dari karakter tokoh seorang Marlina yang selalu memberikan pembelaan diri atas haknya, dan tidak tunduk pada laki-laki serta berani melakukan perlawanan. Satu pesan Mouly dalam film Marlina, si Pembunuh dalam Empat Babak ini yaitu agar kaum perempuan tidak tinggal diam dan terbelenggu oleh budaya patriarki. Ibu satu orang anak ini berhasil membawa filmnya menjadi sorotan di Festival-Festival Film Internasional. Mouly memulai karirnya lewat film Fiksi (2008) dan mendapat nominasi sebagai Sutradara Terbaik dalam Festival Film Indonesia 2008. Target dan cita-citanya hanya satu: terus bisa membuat film!

Dua peran besar menjadi seorang filmmaker dan seorang ibu tak menjadikan perempuan-perempuan tangguh ini mengorbankan salah satunya. Mereka memilih untuk terus bergerak dan berkarya. Perempuan-perempuan hebat ini patut diberi apresiasi yang besar atas karya dan dedikasinya. Selamat Hari Ibu untuk seluruh Ibu di dunia, wishing you have a good life!

Leave a Reply