MIDSOMMAR: MUSIM PANAS YANG INDAH TAPI TERNYATA TIDAK SEINDAH ITU

Spread the love

Apa yang terjadi kalau kita terjebak di sebuah daerah yang terpencil, sedangkan kita tidak tahu apa- apa dan tidak ada sarana untuk kita cari tahu itu? Tidak ada sinyal untuk browsing internet bahkan buat telepon. Mungkin belum seberapa apabila akhirnya kita tahu bahwa hal itu bisa berubah menjadi lebih mengerikan dan mustahil untuk kita pergi dari tempat itu. Itulah yang terjadi pada Dani (Florence Pugh), Christian (Jack Reynor), Mark (Will Poulter), Josh (William Jackson Harper), Connie (Ellora Torchia), dan Simon (Archie Madekwe). Midsommar menceritakan sekelompok mahasiswa pascasarjana Antropologi yang diundang oleh teman satu jurusan mereka, Pelle (Vilhelm Blomgren), untuk pergi ke Halsingland, sebuah kota kecil yang berlokasi kira- kira empat jam dari Stockholm, ibukota Swedia. Salah satu dari mereka, Christian, mengajak pacarnya, Dani, yang baru saja berkabung karena tewasnya ayah, ibu, dan saudara perempuannya. Disana, mereka menghadiri sebuah festival Midsommar yang hanya diadakan setiap 90 tahun sekali. Mereka lalu bertemu dengan Connie dan Simon, dua sejoli dari Inggris yang diundang oleh saudara laki-laki Pelle, Ingemar. Sambutan para warga mungkin hangat. Namun, seterusnya, satu per satu kejanggalan mulai muncul dan menjadi teror bagi mereka.

(Sumber : imdb.com)

Sejak bagian awal, film ini sudah menarik perhatian kita pada bagian intro yang secara gamblang memperlihatkan permasalahan apa yang sedang dialami oleh Dani sang protagonis, hubungan Dani dan Christian yang sebenarnya tidak sedang baik- baik saja, dan bagaimana pengaruh teman- teman Christian terhadap hubungannya dengan Dani. Tentu saja, karena kita akan diperlihatkan tentang sebuah fenomena yang berhubungan dengan musim, bumper opening menutup bagian pengenalan ini, sekaligus musim dingin mengerikan yang telah dilalui Dani.

Selain intro yang diperlihatkan dengan padat dan jelas, suara nyanyian pada adegan paling awal sudah cukup membuat penonton merinding. Tidak lupa juga ketika para sekawan sudah sampai di desa yang mereka tuju. Gambar yang diambil dari atas dan memutar juga sudah membuat kita pusing. Seakan- akan sebuah warning atau peringatan dari sang sutradara bahwa kita akan dibawa ke sebuah perjalanan yang disturbing

Salah satu keunikan Ari Aster, yaitu ia menggunakan prinsip show, don’t tell pada pengambilan gambar. Dengan sabar, kita diperlihatkan puzzle- puzzle yang tidak terkesan ‘menjejalkan’ pesan pada penonton. Sehingga, ketika puzzle- puzzle ini digabungkan,  Aster tidak terkesan terburu- buru dalam menyampaikan pesannya. Misalnya, adegan ketika Christian, Josh, Mark, dan Pelle menyambut Dani yang datang ke tempat dimana mereka biasa berkumpul. Cukup dengan satu shot saja kita bisa melihat dan merasakan betapa canggungnya situasi saat itu. Bisa dibilang, dua film yang sudah Aster produksi ini menembus batas- batas kriteria horor. Bagaimana tidak? Tanpa memperlihatkan wujud hantu pun, Hereditary sudah bisa membuat kita tidak bisa tidur semalaman. Sedangkan Midsommar sebagian besar diambil saat matahari masih terlihat. Sehingga kita bisa berekspektasi, bagaimana jika teror yang mengerikan muncul saat kita masih bisa melihat sinar matahari.

Mereka niatnya liburan, bukan KKN. Tapi sama – sama di desa penari (sumber : imdb.com)

Seperti yang sudah kita ketahui, Midsommar punya tiga versi; versi director’s cut dengan durasi 2 jam 51 menit, versi Amerika dengan durasi 2 jam 27 menit agar bisa ditonton oleh 17 tahun keatas, dan versi Indonesia yang sudah melalui Lembaga Sensor Film dengan durasi 2 jam 18 menit dengan batas umur penonton 21 tahun keatas. Pemotongan durasi ini memang tidak mengubah jalan cerita yang ada. Kita tetap mengetahui kejanggalan- kejanggalan yang dialami oleh mereka, terutama Dani. Namun, sayangnya, feel yang awalnya bertujuan membuat ‘sakit kepala’, terasa seperti air mineral ukuran 600 ml; tanggung. Mungkin hal ini disebabkan karena adegan- adegan yang dihilangkan tersebut tidak layak dipertontonkan untuk penonton Indonesia, walaupun untuk 21 tahun keatas. Kalau saja ada platform untuk kita (yang tentunya para 21+) bisa menonton versi utuhnya, di tahun 2019 ini Ari Aster bakal membuat kita ‘sakit kepala’ lagi.

Artikel ini ditulis oleh Amalia Putri Budi Utami

(penulis berstatus sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta 2016 dan merupakan anggota aktif dari AVIKOM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *