MEREKAM ULANG MEMORI DI “ROMA”

Spread the love

Baru kali ini saya menonton realis film Alfonso Cuaron, walaupun sebenarnya ia sudah punya Y Tu Mama Tambien (2001) jauh sebelum film Roma ini dibuat. Mungkin karena saya mengenal film- film Alfonso Cuaron setelah ia aktif dengan film- film surrealisnya seperti Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004), Children of Men (2006), dan Gravity (2013).

Dari teaser dan trailernya pun, Roma sudah membuat saya jatuh cinta pada gambar grayscalenya. Entah mengapa, bagi saya film graycale atau hitam putih selalu indah serta memiliki konsep dan konteks yang sangat baik, seperti contoh Nebraska (2013), 1985 (2018), dan The Artist (2011).

Roma menceritakan tentang kehidupan Cleodegaria Gutierrez, seorang pribumi Meksiko yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah dokter Antonio dan keluarga. Cleo dan Adela, temannya yang juga bekerja sebagai pembantu di rumah tersebut diperlakukan dengan hangat oleh seluruh anggota keluarga Antonio, tidak seperti tipikal karakter babu yang sering kita lihat di layar kaca Indonesia. Suatu hari, Cleo mendapati dirinya hamil tepat beberapa minggu setelah berkencan dengan pacarnya, Fermin. Keluarga yang dilayaninya juga sedang dirundung kabar tak enak mengenai sang kepala keluarga yang sedang melakukan penelitian di Kanada. Nyonya Sofia, majikannya sekaligus istri dari dokter Antonio, adalah orang yang paling merasakannya.

Roma berhasil membuat saya gemas. Intro dimulai saja saya sudah dibuat penasaran dengan kata Para Libo (Untuk Libo). Saya terharu ketika mengetahui bahwa film ini adalah sebuah penghormatan untuk Liboria Rodriguez, pengasuh Cuaron saat masih kanak- kanak. Rasa gemas yang saya rasakan masih berlangsung bahkan saat filmnya sudah selesai. Saya paham bahwa tangkapan kamera Alfonso Cuaron menceritakan banyak hal. Sayangnya saya tidak terlalu memahami tentang sejarah dunia, terkhusus untuk sejarah revolusi di Meksiko. Kekaguman dengan keingintahuan saya bercampur.

Alfonso Cuaron berhasil menampilkan suatu peristiwa sejarah dengan sangat baik. Menurut saya, film yang menampilkan peristiwa sejarah akan sangat baik hasilnya bila memakai sudut pandang innocent, dengan kata lain jauh hubungannya dengan peristiwa tersebut. Cleo sebagai seorang asisten rumah tangga tidak begitu merasakan carut marut situasi tahun politik yang melibatkan presiden terpilih saat itu, Luis Echeverria Alvarez. Hasilnya, peristiwa demi peristiwa di gambarkan dengan mengalir dan sangat jujur. Teknik panning yang digunakan Cuaron adalah langkah yang tepat untuk memvisualisasikan karya ini. Dengan begitu, kita tahu walaupun kita hanya bisa melihat dari satu titik, kita bisa berputar untuk melihat ke segala arah.

Cerita ini memang berfokus pada Cleo. Namun, saya mengamati ada sudut pandang lain dalam film ini. Yaitu bagaimana perempuan menghadapi dan melewati permasalahannya sendiri. Selain Cleo, Nyonya Sofia juga memiliki permasalahan yang sama beratnya dengan Cleo. Terutama adegan saat Nyonya Sofia beserta anak- anaknya, Toño, Paco, Sofi dan Pepe mengajak Cleo berlibur ke pantai. Ketika sedang menikmati es krim, di belakang mereka sedang berlangsung sebuah pesta pernikahan. Cuaron ingin menyampaikan bahwa Nyonya Sofia dan Cleo adalah perempuan yang sama- sama gagal dalam menjalin hubungan.

Bagi saya, sejarah dan perempuan jika dipadukan akan menjadi sangat menarik. Cuaron sebenarnya ingin merekam ulang memorinya tentang Libo, namun hasilnya adalah sebuah mahakarya karena yang ia sajikan lebih dari itu. Ia tidak hanya merekam ulang tentang Libo, namun juga ketegangan politik pada saat itu. (lia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *