REVIEW FILM : TENGKORAK

Spread the love

Dunia sedang berdebat tentang kehadiran sebuah penemuan fosil, Yogyakarta khususnya. Sebuah fosil tengkorak yang diperkirakan berusia lebih dari 170 ribu tahun karena gempa Yogyakarta pada tahun 2006.

Di satu sisi, para ilmuwan dan akademis sangat bersemangat dengan penemuan ini. Namun, bagi sekelompok pemuka agama, kehadiran fosil ini sangat tabu. Pertarungan kepentingan terjadi. Selain itu mereka juga menyembunyikan penemuan tengkorak dari masyarakan atas dasar kemanusiaan. Namun, apakah penemuan tersebut akan dilanjutkan atau dihilangkan dari muka bumi dengan alasan yang aneh?

Di sisi lain seorang gadis muda yang tertarik dengan ilmu pengetahuan justru ingin mengungkap jati diri fosil tengkorak beserta rahasia-rahasia yang tersimpan di dalamnya. Namun, ia terjebak dalam situasi yang sulit dan kemudian berusaha untuk lepas dari permasalahan ini dengan mengungkapkan berbagai misteri dibalik penemuan-penemuan yang melibatkan berbagai kepentingan.

Film yang ditulis dan disutradarai oleh Yusron Fuadi ini  terbilang cukup berani untuk menggebrak pasar perfilman Indonesia dengan genrenya yaitu fiksi ilmiah atau film Science Fiction atau sering disingkat dengan Sci-Fi. Yusron Fuadi mengajak kita berandai-andai tentang reaksi umat manusia apabila muncul sebuah temuan besar di Indonesia yang mengungkap kenyataan bahwa ada makhluk lebih superior ketimbang manusia di muka bumi. Akankah kita bisa menerimanya atau justru menyangkalnya? Satu hal yang jelas, penemuan semacam ini berpotensi ditumpangi oleh pihak-pihak berkepentingan dan menimbulkan huru-hara.

Dalam beberapa menit awal ketika film dibuka dengan rekaman wawancara dan berita cukup menggaet atensi dari para penonton. Aksi – aksi dari para ilmuwan, pemuka agama, pemerintah, masyarakat, dan juga sejumlah negara tetangga yang ikut campur, membawa penonton mulai masuk kedalam film karena terhipnotis dengan topik pembicaraan yang dibawa dan juga  kata-kata pembuka yang memprovokasi imajinasi.

Tengkorak banyak memakai gambar yang seolah-olah dokumenter di awal dan di akhir. Ini sedikit banyak membuat penonton lebih percaya dengan filmnya. Tetapi, film ini berjalan dengan cukup lambat, semakin lama semakin bertele-tele, dan terkadang tidak berhubungan antara satu alur cerita dalam adegan dengan alur cerita pada adegan lainnya. Namun, alur ini tetap menarik untuk diikuti, terlebih endingnya yang memberikan mindblowing kepada penonton.

Terdapat adegan ketika Yos membonceng Ani dengan motor menuju ke pelosok desa. Disini, logika bercerita yang dipertanyakan. Kenapa Ani nurut saja ketika dibonceng Yos sementara pria tersebut baru saja membunuh seseorang di depan matanya? Apa tidak ada sedikitpun kecurigaan terhadap Yos? Dan mengapa harus ada adegan mereka menghabiskan waktu berdua-duaan dengan durasi cukup panjang disela-sela pelarian ini? Apakah fungsinya sebagai romantic building? Tanpa jalinan proses, sulit menerima fakta Ani bersimpati, bahkan secara tersirat menyimpan perasaan lebih pada Yos yang baru dikenal. Hal ini menimbulkan berbagai pertanyaan.

Adegan yang dimainkan oleh mereka berdua juga memiliki durasi telalu lama dengan isi percakapan yang sebenarnya bisa lebih di persingkat lagi, contohnya seperti adegan mereka di menara yang sedang mengobrol berdua. Terlebih, obrolan tentang bukit tengkorak terkesan seperti hanya dicelotehkan begitu saja dan sering di alihkan dengan pembicaraan lain, padahal mereka yang seharusya menjadi tokoh utama untuk membicarakan hal tersebut dalam film ini.

Namun, beberapa hal tersebut dapat dialihkan dengan penggunaan logat bahasa Jawa dari para pemain terutama Yos dan Ani yang terdengar natural dan sangat kental Jogja asli. Lelucon yang diutarakan pun terdengar lucu. Serta, twist pada film ini cukup menarik terutama di bagian ending.

Pada segi visual, film ini cukup memberikan warna dengan ratio yang berbeda-beda dan pengerjaan efek visual yang terlihat halus dan memuaskan. Treatment musik yang diberikan pun dapat memberikan vibes yang mengungah rasa penasaran pada film ini.

Namun, dari beberapa pernyataan tentang review film ini, Tengkorak sangat patut diapresiasi karena para filmmaker Indonesia telah berani mendobrak dunia perfilman dan juga kita semua harus mengapresiasi semangat dan  effort luar biasa yang dimiliki oleh para crew atas pembuatan film ini yang terbilang cukup lama yaitu, tiga tahun.  Serta, kita harus selalu mendukung perubahan-perubahan dan inovasi terbaru dari para filmmaker untuk memajukan dunia perfilman Indonesia. Jangan lupa menonton, jangan membajak!

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *