REVIEW FILM : SULTAN AGUNG. TAHTA, PERJUANGAN,CINTA

Spread the love

Film yang dibuat penuh dengan drama kolosal ini mengulang kembali cerita sejarah 17 abad lalu. Dalam film ini bercerita tentang tokoh Sultan Agung, Raja Ketiga Mataram yang naik tahta karena konflik yang rumit serta desakan-desakan dari para petinggi kerajaan untuk memintanya menjadi seorang Raja, hingga usaha penumpasan VOC oleh prajurit Mataram dibawah kepemimpinan Sultan Agung. Selain itu juga digambarkan sosok Sultan Agung yang mengalami pergolakan batin yang sangat berat dalam masa kepemimpinanya untuk menjaga Mataram dari kejahatan VOC demi kemajuan tanah Mataran dan bangsanya. Sultan Agung yang ingin menunjukan kepada masyarakat Nusantara dan VOC, bahwa rakyat Mataram bukanlah bangsa yang lemah dan tidak sudi menjadi budak VOC  ini menjadi konflik yang menjadi tumpuan cerita dalam film ini.

Sejak awal, sang sutradara Hanung Bramantyo memulai cerita dalam film ini dengan sangat cantik dan baik. Perkenalan cerita tersebut dibuka dengan menyajikan narasi sebagai pengantar cerita yaitu latar belakang kerajaan Mataram. Lalu dilanjutkan dengan memperlihatkan adegan laga antara Raden Mas Rangsang (Sultang Agung) dengan santri Padepokan Jejeran, dan disinilah awal konflik cerita dimulai. Seluruh cerita tersaji dengan rapi, tanpa tergesa-gesa dan jelas. Jalan cerita yang sederhana dengan beberapa bumbu konflik yang ada tidak membuat cerita ini bergeser dari cerita utamanya tetapi tetap fokus pada konflik utama dan bumbu konflik lainnya hanya mendukung sisi dramatik cerita tersebut.

Cerita ini semakin kuat dan bagus didukung oleh para aktor serta aktris yang memerakan perannya dengan sempurna. Akting mereka secara keseluruhan patut diacungi jempol karena tampil begitu baik dan sangat meyakinkan. Karakter yang mereka miliki sangat bisa di terima dan dilihat oleh para penonton. Adegan laga yang terdapat di film ini pun sangat terlihat natural tidak seperti dibuat-buat. Tidak hanya itu, dialog jawa yang digunakan pun patut di beri apresiasi karena tampak natural seperti bisa berbahasa jawa dengan fasih, walaupun tetap ada beberapa bahasa yang digunakan cukup aneh untuk didengar. Hanung menggarap cerita sejarah ini dengan cukup detil seperti film-film biografi yang pernah digarapnya. Terasa membosankan di pertengahan film, namun, perpaduan konflik-konflik cerita yang ditampilkan selalu membuat penonton menjadi penasaran. Namun seperti film Hanung biasanya, ia selalu menambahkan sisi romance dalam film ini, maka hadirlah sosok Lembayung untuk menghadirkan sisi tersebut.

Untuk segi visual yang ada, dari segi gambar dan lighting disajikan dengan begitu indah dan pas, menambah poin plus untuk film ini. Set film yang dibuat pun juga dibuat seperti benar-benar setting Jogjakarta pada zaman itu. Pemilihan lagu serta instrumen musik seperti gending jawa, yang ada juga mendukung semakin hidupnya film ini dan semakin merinding. Tetapi setiap film tetap ada kekurangan, yang sangat terlihat ialah busana jawa yang dikenakan oleh Sultan Agung ada kesalahan dalam jenis parangnya.

Namun hadirnya film Sultan Agung harus tetap di apresiasi setinggi-tingginya walaupun tetap ada pro dan kontra tergantung darimana sudut pandang yang dilihat. Dengan adanya film ini bisa mengingatkan dan memberitahu lagi kepada masyarakat umum bahwa Indonesia memiliki nilai, cerita, perjuangan dan tokoh sejarah yang harus tetap diingat dan dikenang. Serta film ini dapat memberi pelajaran kebudayaan jawa serta Kerajaan Mataram. Film ini sudah tayang di bioskop sejak 23 Agustus 2018, Selamat Menonton!

Leave a Reply