REVIEW FILM : HEREDITARY (2018)

Spread the love

Horor masih menjadi salah satu genre film yang popular, sejak puluhan tahun silam hingga sekarang. Film horror dianggap berhasil jika mampu membuat penontonya menjerit histeris dan nuansa horornya  masih terbawa hingga penonton keluar dari bioskop. Banyaknya film horror yang hadir ditengah masyarakat dunia, dari yang gampang ketebak alur ceritanya, banyak jumpscare, banyak setan, dan ceritanya tentang supranatural hingga hadirlah film horror berseni yang menghantui sisi psikologi serta mengikis bulu kudukmu pelahan sebelum kamu tidur sepulang dari bioskop, yaitu Hereditary. Film yang memulai debutnya di Festival Film Sundance 2018, digadang-gadang menjadi film horor paling menakutkan di tahun 2018. Terbukti, wajib ditonton untuk menambah pengalaman nonton film horor baru,

Singkat cerita,film ini menceritakan sesuai yang tergambar di judulnya, “Hereditary” yang berarti “Warisan” ini tentang kutukan keluarga (turun-temurun) yang diturunkan ke anak beserta cucunya yang menimbulkan berbagai kejadian mengenaskan di keluarga mereka. Film ini muncul ditengah masyarakat, khusunya Indonesia yang lagi boomingnya buat film horor tetapi isinya cuma setan dan jumpscare aja. Hereditary bukanlah sekedar film horor seperti itu, tetapi film horor berseni yang  keseraman film ini membuat mata yang menyaksikan serta otak yang memproses visual, langsung menyerang sisi psikologis dan dibumbui dengan twist yang benar-benar tidak terpikirkan dan cantik! Kalau dari Indonesia mengingatkan kita pada filmnya Joko Anwar, Pengabdi Setan.

Ari aster, sang sutradara membuat jalan ceritanya sederhana tetapi sulit ditebak. Banyak teka-teki yang terdapat pada film ini,sehingga membuat kita yang menonton harus menyusun teka-teki tersebut untuk menghasilkan gambaran besar kengerian keluarga Annie Graham. Ditambah, film ini tidak diceritakan secara terburu-buru,tetapi penonton diajak untuk menyerap setiap kengerian dari teror yang ditunjukkan, dan juga menampilkan arahan serta jalan cerita yang rapi dan penuh semiotika hingga membuat penonton pasti tidak nyaman duduk di kursi bioskop. Dari adegan pembuka hingga akhir pun, sang sutradara bisa mengatur tensi dan atmosfer penonton yang dibangun sesuai, yaitu  tau kapan membuat suasana takut mulai naik, rasa kepo didukung dengan  suasananya makin menegang,  dan kapan melepaskan kengerian dari rasa takut tersebut.

Kengerian yang ada, sangat didukung dengan acting luar biasa dari keenam pemainnya, terutama 4 tokoh utama yang ada, yaitu Toni Collete pemeran Annie sang Ibu, Alex Wolf pemeran Peter si anak sulung, Gabriel Byrne sebagai Steve Graham sang Ayah, dan Milly Shapiro sebagai Charlie Graham si anak bungsu. Para pemain dalam film ini sangat menjiwai karakter sehingga menimbulkan karakter yang kuat yang didukung oleh ekspresi yang mereka tunjukkan membuat para penonton jadi masuk dalam film ini dan acting mereka yang sangat totalitas. Aura mistis yang dimiliki setiap karakternya pun menambah keinginan tahu kita untuk mengenal karakter lebih jauh lagi, serta chemistry yang kuat mampu dibangun oleh keempat personil keluarga ini dari awal hingga akhir film. Lalu, bagaimana setiap pemain memerakan karakter yang mengalami penderitaan sekaligus penyesalan yang menjadi satu kesatuan, dibawa dengan performa yang memukau dan dapat membuat penonton masuk kedalam karakter tersebut.

Setiap adegan dan jalan cerita ini dibungkus dengan  framming yang sangat rapi dan  cerdas. Pergerakan kamera yang seirama lagu serta suara-suara yang menimbulkan nuansa horor yang kian mencekan dan didukung dengan tone gelap pada film ini. Perpindahan waktu, transisi scene, efek visual  serta pergerakan kamera dari satu momen ke momen lainnya pun dibuat dengan sangat  rapi dan unik. Tidak banyak jumpscare yang ditampilkan dalam film ini, tetapi sosok hantu ini diganti dengan pergerakan kamera yang memberikan efek horor psikologi yang nempel di dalam kepala kalian dan membuat kita menjadi bagian dalam keluarga Graham. Dari segi Audio yang ditampilkan pada film ini, berhasil membuat para penonton menutup telinga mereka. Suara yang berupa bisikan-bisikan dan nada-nada lagu yang disuguhkan sangat mencekam dan memberi efek depresi pada penonton. Penata rias pada film ini benar-benar berhasil menampilkan sosok karakter dengan wajah yang sesuai dengan scene yang sedang diadegankan.

Namun, setiap film pasti mempunyai kekurangan. Ending yang ditampilkan pada film ini mengundang pro dan kontra, terutama bagi masyarakat yang awam dengan hal mistis yang terjadi di ending film tersebut, secara tidak langsung mengartikan bahwa ada “ketidaklogisan” pada film ini. Dan juga ritme lamban dan cukup rumit untuk menyelesaikan konflik ini tidak semua orang suka. Tetapi secara keseluruhan, film ini sangat worth it  dan wajib untuk ditonton baik para penggemar film horor, para penonton biasa, dan lainnya,tetapi tentunya bagi yang berumur 17 tahun keatas.

 

Leave a Reply