Belajar dari Orang Gila dalam “Tak Ada yang Gila di Kota Ini”

Spread the love

Sutradara: Wregas Bhanuteja | Durasi: 20 min.

Kata “gila” dalam KBBI mempunyai arti sakit jiwa (pikiran yang tidak normal) serta berbuat tidak sebagaimana mestinya. Di sekitar kita, seorang gelandangan yang mempunyai perilaku berbeda dengan masyarakat pada umumnya cenderung mendapat label orang gila. Namun melalui film ini kita dipertanyakan, apa memang orang-orang itu gila atau justru selama ini tidak pernah ada orang yang benar-benar gila di sekitar kita?

Locarno Film Festival 2020 yang diadakan secara online membawa kabar baik untuk pencinta sineas Indonesia. Salah satu karya terbaru Wregas Bhanuteja yang diadaptasi dari cerpen milik Eka Kurniawan, yaitu Tak Ada yang Gila di Kota Ini, masuk menjadi salah satu film yang muncul dalam Open Doors Screening dan dapat dinikmati secara gratis dari tanggal 5 – 15 Agustus 2020 lalu.

Film ini bercerita tentang seorang pemilik hotel yang meminta Marwan (Oka Antara) dan karyawannya yang lain untuk membersihkan kota dari orang-orang gila. Hal ini dilakukan supaya para pengunjung hotelnya bisa berwisata dengan nyaman. Maka dari itu, Marwan dan teman-temannya berkeliling di jalanan untuk mengumpulkan semua orang gila yang hidup menggelandang. Kemudian, mereka membuang orang-orang tersebut ke hutan dan tidak mempedulikan nasibnya.

Apa yang diperlihatkan Wregas di sini cukup merepresentasikan bagaimana realita yang ada di sekitar kita. Stigma orang gila atau gangguan jiwa yang negatif dan dianggap penganggu masih terjadi di masyarakat. Bahkan tidak tanggung-tanggung, masih banyak yang memberlakukan mereka dengan tidak manusiawi dan tanpa hati nurani.

Kesenjangan sosial juga ditunjukkan dengan jelas dalam bagaimana eksploitasi yang terjadi dipengaruhi status kelas di masyarakat. Semakin tinggi kelas sosial, maka akan semakin mudahnya mereka dihargai dan dipandang orang lain. Sedangkan semakin rendah status sosial seseorang, mereka akan lebih ditelantarkan. Penderitaan mereka pun cenderung menjadi hiburan dari orang-orang dengan status sosial lebih tinggi. Jika terjadi seperti ini, bukankah kewarasan manusia para pemilik status sosial yang lebih tinggi juga patut dipertanyakan?

Pembentukan karakter dan penggunaan dialog yang apik membuat pesan dalam film ini mudah tersampaikan. Akting Oka Antara yang terkesan serius tetapi misterius mampu membuat penonton bertanya-tanya, akan ada masalah atau kejutan apalagi setelah adegan ini? Inti masalah yang ingin dijabarkan dalam film ini porsinya terasa pas dan sangat menjelaskan bagaimana sebab dan akibatnya.

Adalah ironi ketika orang-orang yang mengeksploitasi orang gila tersebut, ternyata melakukan hal yang lebih gila daripada manusia sewajarnya. Jadi, apakah kegilaan merupakan hal subjektif? Tokoh Marwan dan pasangannya (Sekar Sari) menjawab ironi tersebut di akhir film.  Film ini sarat akan makna dan penutupnya seakan memberikan statement kepada para penontonnya, bahwa tak ada orang yang benar-benar gila di kota ini.

Ditulis oleh Annissa F. Aprilia. Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta dan anggota aktif Avikom.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *