Marriage Story : Pernikahan Memang Tidak Mudah. Begitu Juga dengan Perceraian.

Spread the love

Secara personal, pernikahan memang suatu cara untuk menyatukan dua manusia. Menyatukan visi adalah yang paling dinomorsatukan. Pernikahan jelas memerlukan kesiapan yang matang, walaupun saya yakin, tidak semua pernikahan diberi kesempatan yang cukup untuk bersiap- siap. Saya rasa, keadaan tersebut terjadi pada pernikahan Charlie dan Nicole Barber (Adam Driver dan Scarlett Johannson).

Mereka adalah pasangan yang serasi. Paling tidak, itulah yang disampaikan oleh teman- teman Charlie di perusahaan teater yang ia sutradarai. Namun, hampir satu dekade pernikahannya, Charlie dan Nicole semakin tidak mendapat apa yang masing- masing dari mereka ingingkan. Menurut Nicole, Charlie bukanlah tipe pria yang family man dan terlalu fokus pada karirnya. Ditambah lagi dengan fakta bahwa Charlie pernah tidur dengan salah satu karyawannya. Sedangkan bagi Charlie, Nicole tidak pernah mendukung karirnya yang cemerlang itu. Keduanya memutuskan berpisah dengan baik- baik. Namun dengan adanya hak asuh Henry dan keinginan Nicole untuk tinggal di kampung halamannya di Los Angeles, mereka harus merasakan pahitnya kenyataan bahwa ada bagian yang harus dikorbankan, and it’s fucked up.

Tahun 2005, sang sutradara, Noah Baumbach, sudah menggarap film dengan tema serupa berjudul The Squid and The Whale (seterusnya, The Squid). Marriage Story dan The Squid sama- sama mengupas dan menampilkan betapa sulitnya sebuah keluarga melewati sebuah proses perceraian.  Menguras waktu, tenaga, pikiran, dan tentu saja, hati. Hanya saja, Marriage Story dikemas dari sudut pandang pasangan orang tua, sedangkan The Squid dari sudut pandang anak laki- laki keluarga Berkman yang diperankan oleh Jesse Eisenberg dan Owen Kline.

Noah Baumbach secara pintar menampilkan kemistri yang apik antara Adam Driver dan Scarlett Johannson. Penonton diminta untuk menikmati penuturan Noah dari akibat, lalu ke sebab. Semua disajikan dengan sabar dan tidak terburu- buru. Marriage Story memang betul- betul mempersiapkan kemistri tiap- tiap pemainnya dengan matang. Selain dua protagonis tersebut, Laura Dern yang memainkan karakter Nora Fanshaw, pengacara yang mewakili pihak Nicole, membuat saya berdecak kagum. Dalam The Fault in Our Stars, karakter yang Laura mainkan jauh dari karakter Nora Fanshaw; keibuan yang lembut dan penuh kasih sayang. Nora Fanshaw sebaliknya. Walaupun perhatian dengan kliennya, sebagai pengacara tidak segan- segan menjadi brutal. Membuat proses perceraian seakan- akan menjadi war zone.

So, you have to be perfect, and Charlie can be a fuck up and it doesn’t matter. You will always be held to a different, higher standard. And it’s fucked up, but that’s the way it is,”. Benar- benar menjadi dialog yang berkesan bagi penonton.

Saya tidak begitu terkesan dengan kemampuan Laura di The Fault in Our Stars dan (bahkan) Star Wars : The Last Jedi, sehingga kesan yang saya tinggalkan setelah menonton keduanya seperti, ‘ya, sudah’. Aktris senior dengan karir yang bagus. Namun, di Marriage Story, sepertinya putri dari actor senior Bruce Dern (Nebraska, The Peanut Butter Falcon) ini membuat saya memasukkan namanya dalam daftar aktris favorit saya.

Saya menonton Marriage Story dua kali. Antara menonton yang pertama kali dan kedua kalinya, berjarak hampir dua minggu. Saat menonton yang pertama kali, saya cenderung bosan. Apalagi mulai babak kedua, saat Charlie mengajak Henry untuk merayakan Halloween. Kebosanan tersebut hilang pada kali kedua menonton film ini. Malah di beberapa bagian saya tidak bisa menahan air mata saya untuk tidak keluar. Salah satunya saat Charlie dan Nicole saling berpandangan saat menutup pintu pagar. Oh, ya, dan tentu saja saat Charlie dan Henry membaca tulisan Nicole tentang Charlie. Sepertinya, bagi penonton yang mudah bosan dengan cara bertutur yang cenderung pelan (termasuk saya), perlu menontonnya lebih dari sekali. Saya rasa tidak ada salahnya menyetel film yang sama berulang kali untuk menemukan di mana letak bagus dan tidaknya sebuah film. Itu termasuk sebuah pengalaman menonton.

Persiapan Pernikahan yang Matang

Dilansir dari Tirto.id, berita yang berjudul Mau Nikah tapi Khawatir Cerai? Kursus Dulu, Yuk! menjelaskan bahwa kasus perceraian di Indonesia semakin meningkat tiap tahunnya. Survey yang dilakukan Puslitbang Kehidupan Keagamaan Kementerian Agama RI mengatakan bahwa tidak harmonisnya keluarga, orang ketiga, dan faktor ekonomi menjadi sebab utama pasangan bercerai.

Marriage Story menyampaikan hal yang kurang lebih serupa. Charlie sebenarnya tidak menginginkan keluarga. Namun karena Nicole menginginkan sebuah keluarga, dan keduanya tidak ingin kehilangan satu sama lain,  menikah menjadi jalan yang akhirnya mereka ambil. Walaupun minim persiapan. Akibatnya, komunikasi dan kesatuan visi antara kedua belah pihak membuat pernikahan mereka penuh dengan ketidaksenangan.

Marriage Story bersegmentasi yang luas. Hanya karena judulnya memiliki kata ‘marriage’ bukan berarti film ini semata- mata diperuntukkan hanya untuk yang sudah menikah. Film ini untuk siapa saja, bahkan untuk yang belum menikah, baik yang sudah mempunyai calon mempelai atau belum. Sebagai sebuah media massa, Marriage Story seharusnya bisa menjadi sarana untuk berdiskusi mengenai persiapan pernikahan yang matang.

Secara keseluruhan, Marriage Story menjadi karya yang hampir tidak ada celah. Para aktor bermain dengan lepas. Dengan jujur film ini disajikan, mengingatkan saya akan film- film karya Hirokazu Kore-eda dengan penuturan yang khas. Tidak dipaksakan, maupun memaksakan.  Seharusnya, tahun depan, Noah Baumbach dan kawan- kawan bisa membawa pulang banyak penghargaan melalui Marriage Story.

Artikel ini ditulis oleh Amalia Putri Budi utami

(penulis berstatus sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN Veteran Yogyakarta 2016 dan merupakan anggota aktif dari AVIKOM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *